Sebagai anggota Kaoem Telapak asal Cilegon, keterlibatan Panji Wijaya dalam isu ruang hidup berawal dari pemetaan wilayah adat di Kalimantan. Kepulangannya ke kampung halaman pada tahun 2016 awalnya sekadar untuk berlibur. Namun, sebuah musibah kecelakaan yang dialaminya memaksanya urung kembali ke Palangkaraya dan memutuskan untuk menetap di Banten. Keputusan menetap ini justru membawanya melihat lebih dekat realitas krisis energi di tanah kelahirannya. Sebelum sepenuhnya terjun dalam kerja pendampingan masyarakat Banten, Panji sempat bekerja di bagian bongkar muat batubara Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya pada periode 2017 hingga 2019. Pengalaman menjadi "orang dalam" ini memberikannya sudut pandang yang berbeda mengenai.....

