fbpx

Menu

Mosi 37/2022 Peluang Pembalak Liar Dapat Sertifikasi FSC

Oleh: Teguh Iman Affandi

Forest Stewardess Council (FSC) mengesahkan Mosi 37/2021 pada Sidang Umum Sesi Kedua, 14 Oktober 2022 di Bali, Indonesia.

Sidang Umum FSC di Bali, Indonesia
Sumber: Prefferd By Nature

Mosi 37/2021 mengajukan perubahan kebijakan FSC mengenai masa penebangan atau cut off date yang awalnya tahun 1994 menjadi 2020. Artinya, korporasi yang melakukan pembalakan sebelum tahun 2020, memiliki peluang untuk mendapatkan sertifikasi FSC. 

Dalam situsnya, FSC menyatakan dengan Mosi 37/2021 ini, FSC akan makin relevan dalam restorasi lahan, karena menyediakan insentif dari pasar, juga pemulihan lahan yang terdegradasi dan terdeforestasi.  Dalam mosi ini, tersedia rute bagaimana jutaan hutan akan direstorasi dan tersertifikasi FSC, lalu dikelola secara bertanggung jawab sesuai dengan prinsip dan kriteria FSC.

Sertifikasi FSC adalah sebuah mekanisme yang menjamin bahwa produk yang dihasilkan berasal dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab, yang memberikan manfaat dari aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Sertifikat FSC bersifat sukarela, berbeda dengan SVLK yang dikembangkan oleh stakeholder di Indonesia yang sifatnya wajib untuk pelaku usaha komoditas kayu.

Hutan yang dibabat untuk perkebunan

Penolakan Mosi 37/2021 datang dari Rainforest Action Network (RAN). Melalui media brief yang disebarkan via websitenya, Gemma Tillack, Direktur Kebijakan Hutan, menyatakan bahwa Mosi 37/2022 adalah penentu apakah FSC sebagai sistem sertifikasi itu bisa dipercaya atau tidak. “This is a make or break moment for the credibility of the FSC. The decisions made by its members at this General Assembly will determine if the FSC can be trusted as a certification system for global users of paper and timber products.” 

Tillack tidak yakin, skema pemulihan yang termaktub dalam Mosi 37/2022 akan berpengaruh banyak. Menurutnya, rekam jejak FSC dalam melakukan pemulihan tidak meyakinkan. Tillack menyebut banyak komunitas yang melayangkan komplain ke FSC terkait sertifikasi yang dikeluarkannya, namun sampai sekarang tidak mendapatkan pemulihan. “While the FSC claims that moving the cut-off date will enable it to play a role in restoring previously converted forests and remedying social harm, FSC’s track record does not inspire confidence. Countless communities who have filed complaints against FSC certified members have still not received remedy.”

Bagikan
Kategori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dengan mendaftarkan email ini, anda setuju untuk menerima seputar berita, tawaran, dan informasi dari Kaoem Telapak. Klik disini untuk mengunjungi Kebijakan Privasi Kami. Tautan untuk berhenti menerima pemberitahuan disedeiakan pada setiap email.

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Cookie Dasar

Cookie yang diperlukan mengaktifkan fungsionalitas inti. Situs web tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa cookie ini, dan hanya dapat dinonaktifkan dengan mengubah preferensi browser Anda

Cookie analitik membantu kami meningkatkan situs web kami dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi tentang penggunaannya