Oleh: Abdul Halim
Ada keluarga kecil dan baru berumah tangga
Hidup di pinggiran kota dengan rumah angsuran
Ada halaman kosong depan rumah
Disulapnya menjadi taman bunga yang indah
Hinggap sepasang kupu-kupu di kelopak bunga
Mengingatkan pada masa kecil yang bahagia
Masa penuh kenangan dan selalu didamba
Ada banyak kupuk kupu terbang di halaman
Orang bijak berkata, jangan pelihara dalam sangkar
Tapi ciptakan hutan dan taman, mereka akan berdatangan
Kupu-kupu indah berseri
Kupu-kupu di taman mini
Kupu-kupu terbang menari
Kupu-kupu menyejukkan hati
Datang berlari anak gadis kecil kesayangan
Mengejar kupu-kupu seperti mendapatkan teman
Jatuh bangun terus mengejar, namun tak dapat jua
Dia menangis menghibah dan meminta menangkapnya
Demi terhenti tangis anaknya, terpaksa kupu-kupu ditangkap juga
Demi kasih pada anak gadisnya, akhirnya kupu-kupu mati di tangannya
Kupu-kupu indah berseri
Kupu-kupu di taman mini
Kupu-kupu terbang menari
Kupu-kupu menyayat hati

Puisi ini pernah ditulis pada awal tahun 2000-an, kemudian tayang kembali karena arsipnya sudah tidak ketemu lagi. Puisi ini bercerita tentang kerinduan pada lingkungan yang sejuk, asri dan nyaman, bagaikan keadaan yang pernah dirasakan penulis pada tahun 70-an: Sebuah masa yang indah dan penuh kenangan dengan banyak kupu-kupu beterbangan di halaman rumah, seperti suasana yang selalu didamba dan ingin didapat kembali.
Secara tidak sengaja, dia hendak membangun dan menyusun kembali puzzle tersebut. Suatu keadaan yang akan menjadi nyata, meski tidak seperti sedia kala dan aslinya. Mata dan hatinya pun mulai berbinar dikala taman bunga mulai mengundang kupu-kupu.
Tapi keadaan ini kemudian menjadi hancur dan lebih berantakan lagi, di kala anak gadis kecil kesayangan memintanya menangkap kupu-kupu itu. Kupu-kupu yang menjadi simbol dan bukti dari imajinasi untuk mulai mewujudkan diri menjadi mati seketika; mati demi kasih sayang di tangan anak kesayangannya sendiri.
Puisi ini perlu ditulis kembali, mengingat industri ekstraktif semakin merajalela. Pemerintah membuka izin usaha tambang bagi Ormas. Pulau-pulau kecil seperti Raja Ampat yang tidak boleh ada kegiatan ekstraktif pun juga dibuka untuk penambangan.
Inilah keadaan yang sangat menyedihkan dan lebih menyayat hati bagi para pejuang lingkungan, seperti sudah tidak ada lagi peluang yang bisa diupayakan. Setiap gerakan yang dilakukan akan menikam dirinya sendiri, ibarat terperosok ke dalam lumpur yang ketika semakin bergerak akan semakin terperosok ke dalamnya.
Di tengah ancaman pemanasan global dan perubahan iklim, perjuangan para aktivis lingkungan ini membentur pada perlawanan teman-temannya sendiri. Teringat perdebatan Iqbal Damanik, Juru Kampanye Hutan Green Peace dengan Ulil Absar Abdalah dari PBNU yang dikenal baik sebagai rekan sesama aktivis juga, di kala Iqbal menyatakan bahwa kita butuh pemulihan lingkungan karena sudah over-capacity.
Namun sebaliknya, Ulil menyatakan, “Mengapa anda peduli? Kita tidak bisa lagi menuntut keadaan kembali seperti masa kecil.”
Gerakan Green Peace ini disebut puritan dan menakut-nakuti (fear mongering). Pandangan semacam ini ia sebut wahabisme lingkungan.
Tapi argumen seperti ini ada dasarnya dalam agama, bahwa bagaimanapun dunia juga akan mengalami kerusakan. Ada kiamat Sugro (kecil) dan ada kiamat Kubro (besar) yang berarti hancurnya peradaban manusia. Seperti kata penyair Chairil Anwar, “Hidup hanya menunda kekalahan. Sekali berarti, setelah itu mati.”
Dan kita akan menyongsong kerusakan lebih awal.

