Oktober 13, 2026 11:44 AM | kaoem@kaoemtelapak.org

Berjuang untuk keadilan ekologi

kaoem@kaoemtelapak.org

Oktober 13, 2026 11:44 AM

Kampung Kulo di Pedalaman Halmahera: Harapan Terakhir Penjaga Tanah Adat Sawai

Oleh: Djulfikram (KAoem MUda) dan Agetha Lestari*

Pagi di Kampung Kulo, pedalaman Halmahera Tengah, dimulai dengan suara burung dan denting pacul para petani yang menggarap lahan perkebunan. Di tepi sungai Akejira yang jernih, ibu-ibu mencuci pakaian sambil berbincang, semetara anak-anak berlarian di halaman rumah atau berenang di air yang sejuk, dan angin pagi membawa aroma tanah basah serta dedaunan.

Situasi Kampung Kulo, Maluku. Foto oleh Fiki, 2025

Perjalanan menuju kampung ini bukan mudah, memakan waktu empat jam menempuh Sungai Akejira dengan perahu speed boat, melewati jalur berlumpur, hujan lebat, dan angin kencang. Kampung Kulo terletak di Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang dihuni sekitar 56.802 jiwa (BPS 2020) dengan kepadatan rendah, hanya sekitar 21 jiwa per kilometer persegi.

Masyarakat Suku Sawai di sini menggantungkan hidup dari hasil pertanian dan perkebunan. Kebun mereka melimpah dengan pisang, kelapa, ubi, sayuran, dan tanaman lokal lainnya. Sungai menyediakan ikan untuk dikonsumsi, sementara hutan menjadi sumber sagu, bahan pokok papeda dan bahan makanan lain. Sebagian warga masih berburu rusa atau hewan liar menggunakan tombak, panah, atau perangkap tradisional, mengikuti cara leluhur yang diwariskan turun-temurun.

Kehidupan sosial di kampung ini sangat erat. Gotong royong menjadi napas desa, di setiap acara, pembangunan rumah, atau panen dilakukan bersama. Musyawarah untuk mufakat menjadi landasan pengambilan keputusan, sehingga ikatan kekeluargaan kuat dan perselisihan jarang terjadi.

Tradisi dan budaya tetap hidup. Upacara adat sering digelar, diiringi alunan musik dan tarian tradisional yang diwariskan generasi ke generasi. Pengetahuan lokal tentang tanaman, obat-obatan, prediksi cuaca, dan ekosistem hutan dihargai tinggi dan diajarkan sejak kecil.

Udara bersih dan air yang melimpah membuat Kampung Kulo nyaman dan sehat untuk dihuni. Tidak ada bising mesin, tidak ada polusi; hanya suara alam berpadu dengan aktivitas manusia yang selaras, menciptakan harmoni yang menjadi jantung kehidupan masyarakat Sawai.

Di Kulo, sungai, hutan, dan ladang bukan hanya sumber mata pencaharian, tetapi juga rumah dan ruang spiritual. Hidup di sini adalah harmoni abadi antara manusia dan alam, menjaga keseimbangan ekologi sekaligus melestarikan warisan budaya yang telah berlangsung lebih dari satu abad.

“Kalau hutan hilang, kami kehilangan hidup,” ujar Yohanis Koke, kepala suku sekaligus juru kunci situs adat Kulo. “Kami tidak bisa pisah dari alam, karena di sanalah leluhur kami tinggal,” sambungnya.

Cerita kampong, tentang alam dan sejarah

Situasi pemukiman warga di Kampung Kulo. Foto oleh Fiki, 2025

Sejarah Kampung Kulo berakar lebih dari seabad lalu. Pada tahun 1911, sekelompok masyarakat Sawai Kamuka mendirikan perkampungan di tepian Sungai Akejira, menamainya “Kulo” yang dalam bahasa Sawai berarti tempat yang dijaga. Nama ini bukan sekadar penanda geografis, melainkan penghormatan kepada Lagae Cekel, tokoh sakral yang diyakini sebagai penjaga timur Kesultanan Tidore, sekaligus simbol identitas budaya dan spiritual masyarakat Sawai.

Menurut cerita turun-temurun, Lagae Cekel dikenal sakti, bijak, dan penguasa dua belas bahasa daerah di Maluku, dari Tobelo, Galela, hingga Sawai. Kisah legendaris menceritakan bagaimana ia menyeberangi laut menuju Tidore hanya dengan sebatang galah, menandai kesetiaannya pada Kesultanan dan kemampuannya mengatasi rintangan alam. Ia wafat di tengah hutan Halmahera, dan makamnya kini diyakini berada sekitar tiga kilometer dari kawasan Transmigrasi Kobe Kulo, dikenal dengan sebutan Jere Lagae Cekel.

Setiap pohon, setiap aliran sungai, dan setiap batu di sekitar Jere dianggap bagian dari warisan hidup yang harus dilestarikan. Yohanis bertutur, “Jere itu tempat suci. Kami tidak boleh merusak hutan di sekitarnya, karena di sanalah leluhur kami bersemayam.”

Bagi masyarakat Kulo, menjaga hutan bukan sekadar menjaga tanah, melainkan menjaga identitas, sejarah, dan keberlangsungan hidup.

“Ini bukan cuma tanah, tapi kehidupan kami. Kalau hutan hilang, sejarah dan roh leluhur pun ikut hilang,” kata Yohanis.

Hutan di sekitar Kulo juga berperan sebagai ‘buku hidup’ masyarakat Sawai: Tempat mereka belajar tentang musim, tumbuhan obat, lokasi berburu, dan pola tanam yang sudah diwariskan turun-temurun. Setiap ritual adat, dari panen hingga upacara spiritual, selalu terkait dengan hutan dan sungai yang menyejahterakan masyarakat sekaligus menegaskan hubungan mereka dengan leluhur.

Dengan kata lain, Kampung Kulo adalah cermin harmoni manusia dan alam dengan sejarah, spiritualitas, dan ekologi saling berkaitan satu sama lain. Kehilangan hutan bukan hanya menghapus flora dan fauna, tapi juga memutus hubungan masyarakat dengan leluhur dan meminggirkan nilai-nilai budaya yang telah bertahan lebih dari seratus tahun.

Bayang-bayang tambang dan perlawanan Masyarakat Adat

Kondisi Sungai Akejira di Kampung Kulo. Foto oleh Fiki, 2025

Ketenangan Kampung Kulo kini terkikis. Sejak tahun 2020, ketika PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) memperluas operasi nikel ke wilayah Weda Tengah, masyarakat mulai merasakan perubahan yang perlahan menggerus ruang hidup mereka: Air sungai mengeruh, tanah retak, dan udara berdebu. Sungai Akejira, yang selama puluhan tahun menjadi nadi kehidupan, kini berubah warna.

“Dulu sungai itu tempat kami mandi, minum, dan mencuci,” ucap Yohanis. “Sekarang, airnya keruh dan berbau logam. Kami takut anak-anak sakit kulit.”

IWIP, konsorsium tambang yang berada di bawah Harita Group dan Tsingshan Holding Group, menguasai ribuan hektar hutan di Halmahera Tengah. Proyek yang diklaim sebagai kawasan industri strategis nasional ini menyumbang lebih dari 30% ekspor nikel Indonesia pada 2024. Namun di sisi lain, ekspansi industri ini menimbulkan ancaman ekologis serius bagi Weda Tengah, merusak sungai, hutan, dan lahan pertanian Masyarakat Adat.

Sekitar bulan Mei – Juni 2025, banjir besar melanda Kulo. Air setinggi satu meter menenggelamkan rumah dan kebun, meninggalkan lumpur merah pekat di jalan kampung.

“Air datang cepat sekali, tidak ada hujan sebelumnya,” kenang Yamris Koke, warga Kulo. “Kami tahu ini bukan banjir biasa. Itu lumpur dari atas, dari arah tambang.”

Lima bulan berselang, Oktober 2025, banjir kembali datang namun tanpa hujan. Warga menduga sedimentasi material tambang di hulu telah mengubah aliran sungai.

“Kalau dulu sungai tenang dan jernih, sekarang cokelat seperti kopi,” kata Yamris. “Setiap kali banjir, kebun kami tertimbun lumpur dan ikan-ikan mati.”

Data BPS Maluku Utara (2022) mencatat, sedikitnya 13 desa dengan total 12.986 jiwa di Kecamatan Weda Tengah kini hidup berdampingan dengan kawasan industri nikel. Wilayah ini dulunya hutan primer dan lahan adat Suku Sawai, tempat masyarakat menggantungkan hidup dari hasil hutan non-kayu seperti rotan, damar, dan sagu.

Namun, ekspansi tambang mengubah wajah Halmahera. Menurut Forest Watch Indonesia (2024), provinsi ini kehilangan lebih dari 11 ribu hektar tutupan hutan dalam lima tahun terakhir, sebagian besar di sekitar kawasan IWIP. Di Weda Tengah, deforestasi mencapai 2.300 hektare per tahun akibat pembukaan jalan tambang dan area penimbunan ore.

Melihat perkembangan ini, Yohanis berkata, “Yang kaya mereka yang punya tambang, sedangkan kami hanya dapat lumpur dan sakit. Air yang dulu sumber kehidupan, sekarang membawa racun.”

Meski tekanan industri makin kuat, masyarakat Kulo menolak pergi. Mereka tetap menjaga Jere Lagae Cekel, situs sakral tempat leluhur bersemayam. Setiap bulan, ritual adat digelar untuk memohon keseimbangan alam.

“Selama hutan masih berdiri, leluhur masih bersama kami,” tegas Yohanis. “Kalau hutan rusak, bukan cuma air yang hilang, tapi juga jiwa kami.”

Kini, di tengah deru mesin tambang dan kicau burung yang semakin jarang terdengar, Kampung Kulo menjadi simbol perlawanan sunyi Masyarakat Adat Sawai, berdiri di batas terakhir hutan Halmahera, melawan dengan cara mereka: Menanam, menjaga, dan berdoa. Di Jere Lagae Cekel, setiap upacara dimulai dengan kalimat sederhana namun sarat makna:

“Torang jaga hutan, karena hutan juga jaga torang.”

*Tulisan ini adalah bentuk kolaborasi Kaoem Telapak dengan Djulfikram, KAoem MUda di Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dengan mendaftar ke mailist, anda menyetujui untuk mendapatkan pemberitahuan email baik berita, penawaran, dan informasi lain dari Kaoem Telapak. Klik di sini untuk melihat kebijakan Kebijakan Privasi kami. Tautan keluar dari mailist disertai pada setiap email.

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Cookie Dasar

Cookie yang diperlukan mengaktifkan fungsionalitas inti. Situs web tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa cookie ini, dan hanya dapat dinonaktifkan dengan mengubah preferensi browser Anda

Cookie analitik membantu kami meningkatkan situs web kami dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi tentang penggunaannya

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.