Agustus 28, 2026 3:25 AM | kaoem@kaoemtelapak.org

Berjuang untuk keadilan ekologi

kaoem@kaoemtelapak.org

Agustus 28, 2026 3:25 AM

Satu Laut, Satu Hutan, Satu Suara Pemuda: Cerita dari Masela dan Sapeken

Oleh: Dhiya Rahmawati dan Kaoem Telapak*

Angin asin menampar wajah saat kapal perlahan meninggalkan pelabuhan. Ombak tak henti menghantam badan kapal, seolah menguji niat setiap penumpang yang berlayar menuju Pulau Masela di Kabupaten Maluku Barat Daya dan Pulau Sapeken di Kabupaten Sumenep, bagian dari pulau-pulau terluar di Indonesia.

Daerah Kampung Lama di Desa Ibalatmuntah, Bentuk Hutan Adat yang dijaga oleh ‘Sasi.’ Foto oleh Dhiya Rahmawati, 2025

Dalam perjalanan panjang ini, saya belajar satu hal sederhana: Untuk memahami kehidupan di tepian negeri, harus siap menyusuri laut dan menepi pada kesunyian.

Pulau pertama berlabuh jatuh ke Masela, seakan-akan menyambut dengan aroma tanah basah dan rimbun pepohonan yang berdiri rapat di sepanjang tepi pantai. Masyarakat Adat di sana menyapa dengan senyum ramah dan tatapan teduh, seolah menyimpan rahasia panjang tentang bagaimana hidup berdampingan dengan alam.

Mereka menyebut Hutan Adat sebagai ‘paru-paru pulau;’ ruang sakral yang dijaga dengan aturan adat bernama sasi.

Sasi bukan sekadar larangan mengambil hasil hutan atau laut. Saat sasi berlaku, masyarakat berhenti mengambil hasil alam, memberi waktu bagi bumi untuk pulih. Seorang tetua adat bercerita sambil menatap batang pohon kenari tua, “Kami tidak hidup dari hutan; kami hidup bersama hutan.”

Kalimat itu sederhana, tapi mengandung kebijaksanaan yang dalam pelajaran yang kerap hilang dari kehidupan modern. Selama beberapa hari tinggal di Masela, saya melihat bagaimana nilai sasi menjadi panduan dalam setiap aspek kehidupan. 

Anak-anak belajar dari orang tua tentang waktu membuka kebun, kapan laut boleh dilayari, dan kapan harus dibiarkan tenang. Dari hutan, mereka mengambil secukupnya; dari laut, mereka menebar rasa hormat. Dalam kesunyian pulau kecil itu, saya melihat bentuk nyata keberlanjutan yang lahir bukan dari proyek, melainkan dari kesadaran kolektif.

Nelayan membawa hasil tangkapan di bibir Pantai Sapeken. Foto oleh Dhiya Rahmawati, 2025

Perjalanan kemudian membawa saya menyeberang jauh ke arah barat, menembus gelombang menuju Pulau Sapeken, gugusan kecil di ujung timur Kabupaten Sumenep, Madura yang terkenal sebagai lumbung ikan di Timur Madura, sebagaimana ditulis oleh Muhandis Sidqi (2013) dalam bukunya berjudul “Pulau Sapeken: Lumbung Ikan di Timur Madura.

Setiap pagi, nelayan berangkat sebelum fajar, membawa jaring dan harapan. Kapal-kapal kayu kecil bergerak serempak, meninggalkan garis pantai yang perlahan memudar. Hasil tangkapan mereka bukan hanya untuk pasar lokal, tetapi juga dikirim hingga ke Surabaya dan Bali. 

Hampir setiap keluarga di Sapeken menggantungkan hidupnya pada laut. Saking eratnya hubungan itu, laut bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan ruang spiritual dan budaya yang membentuk jati diri masyarakatnya.

Namun, nelayan Sapeken kini menghadapi tantangan baru. Perubahan iklim, penurunan kualitas ekosistem laut, dan ancaman polusi membuat hasil tangkapan tidak lagi sebaik dulu.

Banyak pemuda yang mulai berinovasi mendorong penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, menanam kembali mangrove, serta mengedukasi warga tentang pentingnya menjaga terumbu karang. Mereka bergerak dengan semangat yang sama, bahwa melindungi laut berarti melindungi masa depan.

Semangat itu adalah wujud nyata dari Aksi #KAoemMUda gerakan anak muda yang tidak berhenti pada retorika, melainkan hadir bersama masyarakat, mendukung mereka menjaga ruang hidupnya. 

Di Sapeken, beberapa pemuda bahkan mulai membentuk kelompok kecil untuk membersihkan pantai dan memantau wilayah tangkap yang rawan rusak. Dari tepi laut kecil itulah, muncul harapan besar bahwa perubahan bisa dimulai dari tindakan sederhana.

Saat bangsa ini memperingati Sumpah Pemuda, perjalanan ini mengingatkan bahwa persatuan tidak hanya berarti satu bangsa dan bahasa, tetapi juga satu kepedulian terhadap Bumi yang menyatukan kita semua. Dari Hutan Adat Masela hingga Laut Sapeken, generasi muda telah menunjukkan bagaimana cinta tanah air bisa dihidupkan kembali lewat aksi nyata.

Satu laut, satu hutan, satu suara untuk Nusantara.

*Tulisan ini adalah karya Dhiya Rahmawati, Juara 2 kontes Karya #KAMU yang diselenggarakan Kaoem Telapak dan KAoem MUda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dengan mendaftar ke mailist, anda menyetujui untuk mendapatkan pemberitahuan email baik berita, penawaran, dan informasi lain dari Kaoem Telapak. Klik di sini untuk melihat kebijakan Kebijakan Privasi kami. Tautan keluar dari mailist disertai pada setiap email.

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Cookie Dasar

Cookie yang diperlukan mengaktifkan fungsionalitas inti. Situs web tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa cookie ini, dan hanya dapat dinonaktifkan dengan mengubah preferensi browser Anda

Cookie analitik membantu kami meningkatkan situs web kami dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi tentang penggunaannya

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.