Oleh: Rutiana Yudafat (KAoem MUda) dan Agetha Lestari*
Hari Masyarakat Adat Sedunia yang diperingati setiap 9 Agustus menjadi momentum penting untuk mengenang, menghargai, dan menguatkan suara komunitas adat di seluruh Indonesia. Di Papua Barat Daya, di tengah hutan-hutan yang masih menyimpan keindahan dan kekayaan alam, Uty, KAoem MUda dan juga perempuan muda adat Papua Barat Daya, mengajak kita menyelami perjuangan menjaga warisan leluhur yang tak ternilai harganya.

Situasi hutan di pinggir perairan Papua.
Foto oleh Kaoem Telapak, 2022
Di sudut Papua Barat Daya, hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan dan hamparan tanah. Bagi Masyarakat Adat, hutan adalah denyut nadi kehidupan, sumber hidup, sekaligus jiwa yang mengikat mereka pada tanah leluhur.
Uty adalah salah satu suara muda yang berani dan gigih menjaga napas kehidupan itu agar tidak hilang tersapu arus zaman. Ia membuka cerita tentang pohon merbau, pohon besar yang dulu menjulang gagah sebagai lambang kekayaan hutan mereka, namun hal tersebut kian langka akibat vegetasi yang lebat kini berubah menjadi tanah gersang dan kosong, meninggalkan bekas-bekas penebangan liar.
“Beberapa tahun lalu, hutan masih tebal dan pohon merbau berdiri tegak di mana-mana. Sekarang, banyak yang hilang,” kata Uty.
Kondisi alam di Knasaimos
Di sisi lain, Uty juga bercerita tentang potensi besar wilayah adat Knasaimos yang membentang di sekelilingnya, mulai dari sagu yang melimpah, hasil laut seperti udang dan ikan, hingga kebun ubi dan tanaman lainnya. Meski begitu, Uty merasa bahwa Masyarakat Adat Knasaimos belum bisa mengelola semuanya secara maksimal.
Keterbatasan fasilitas dan pengetahuan menjadi tantangan terbesar masyarakat Knasaimos. Banyak hasil alam yang belum bisa langsung dipanen atau diolah dengan baik, sehingga potensi itu belum sepenuhnya menjadi sumber kesejahteraan.
“Kami masih belajar memanfaatkan potensi ini secara berkelanjutan agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ucap Uty.
Ancaman baru juga mengintai wilayah adat mereka. Berita tentang perusahaan yang mengincar tanah adat untuk perkebunan sawit dan eksploitasi sumber daya alam lain sering terdengar di kampung-kampung.
Meski begitu, Uty menegaskan, “Kami belum tahu pasti siapa yang akan masuk, tapi kami waspada dan siap menjaga wilayah kami.”
Tanggung jawab sebagai pemuda adat
Sebagai pemuda adat, Uty merasakan tanggung jawab besar menjaga warisan leluhur. Bersama teman-temannya, mereka mulai bergerak mengelola potensi alam, misalnya mengolah sagu menjadi kue sebagai produk lokal yang punya nilai jual.
“Ini baru langkah kecil, tapi kami percaya ini awal yang baik,” katanya optimis.
Sayangnya, semangat itu belum menyebar luas, terutama di kalangan perempuan adat. Sejauh ini, Uty melihat baru ada satu atau dua perempuan yang memiliki inisiatif, sedangkan teman-teman lainnya masih perlu ia ajak satu per satu.
Kemudian, selama dua kali Uty turun ke lapangan di wilayah Selatan dan Sorong untuk mengajak masyarakat lebih peduli dan menjaga hutan yang menjadi napas kehidupan mereka, ia mendapati banyaknya tantangan. Minimnya sarana dan prasarana, ditambah rendahnya kesadaran sebagian masyarakat menjadi hambatan nyata yang menyebabkan penebangan liar masih terjadi, dengan alasan kebutuhan ekonomi yang mendesak.

Penebangan dan konversi hutan ilegal yang pernah terjadi di Papua Barat Daya.
Foto oleh Kaoem Telapak, 2019
“Kami paham bahwa ini menyangkut kondisi ekonomi, tapi hutan adalah napas hidup kami. Kalau hutan hilang, maka hilang juga hidup kami,” ujarnya.
Di tengah segala kesulitan ini, Uty tetap optimis. Ia percaya dengan kesadaran dan kerja keras bersama, Masyarakat Adat bisa menjaga dan mengelola hutan dengan baik, agar warisan alam ini tetap lestari dan dinikmati oleh generasi mendatang.
Bagi Uty dan Masyarakat Adat Knasaimos, hutan bukan hanya sekadar hutan: Ia adalah ibu, rumah, sumber kehidupan, dan warisan yang harus dijaga. Uty adalah salah satu penjaga setia napas itu, yang terus berjuang untuk keadilan ekologis, menyulam harapan agar hutan tetap berdiri kokoh di masa depan.
*Tulisan ini adalah bentuk kolaborasi Kaoem Telapak dengan Rutiana Yudafat, KAoem MUda di Papua Barat Daya

