Oleh: Elsa Ayu Friska (KAoem MUda) dan Agetha Lestari
Setiap helai anyaman buatan tangan perempuan adat menyimpan lebih dari sekadar rupa indah. Ia memuat pengetahuan leluhur, keterhubungan manusia dan alam, serta ketekunan mempertahankan hidup di tengah tekanan jaman.

Seorang perempuan mengangkat daun-daun Kolosua muda sebagai bahan anyaman.
Foto oleh Elsa Ayu Friska, 2025
Tanggal 9 Agustus adalah Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS), sebuah momen untuk mengingat bahwa Masyarakat Adat bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi garda terdepan pelindung hutan, air, tanah, dan budaya: Mereka adalah penjaga keberlanjutan bumi hari ini.
Salah satu kisah ketahanan itu datang dari Pulau Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara. Di pulau kecil ini, perempuan adat menjaga tradisi dan ekonomi keluarga lewat Kolosua, pandan hutan yang dianyam dengan tangan, penuh ketelatenan dan cinta.
Kolosua bukan sekadar kerajinan: Ia adalah warisan ekologis. Daun pandan dipetik langsung dari hutan dan rawa secara selektif dan musiman, agar regenerasi tanaman tetap terjaga. Daun dikeringkan, dilunakkan, lalu dianyam selama berhari-hari.
Dulu, Kolosua digunakan dalam aktivitas sehari-hari seperti bertani dan upacara adat. Kini, berkat dukungan komunitas dan promosi digital, Kolosua juga bernilai ekonomi dan menyambung hidup para pengrajinnya.
Namun, harmoni ini kian rapuh. Ekspansi tambang nikel di Wawonii merusak hutan, mencemari air, dan membatasi akses ke wilayah adat. Bagi para perempuan penganyam di desa Tumbu-Tumbu Jaya, ini bukan hanya soal hilangnya bahan baku, tapi terancamnya pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.
Tumbu-Tumbu Jaya dikenal sebagai ‘surganya Kolosua.’ Pandan tumbuh alami di rawa luas, tak perlu dibudidayakan. Kolosua di sini bukan hanya sumber ekonomi, tapi bagian dari identitas dan ekosistem. Jika hutan rusak, maka rusak pula sumber hidup dan sejarah yang melekat di dalamnya.
Perjalanan daun Kolosua dari rawa ke rumah
Membuat anyaman Kolosua bukan perkara mudah. Prosesnya dimulai dengan memilih batang yang tepat.
Warga biasanya memanen Kolosua yang masih muda dan berwarna hijau tua karena serat di dalamnya masih kuat dan lentur, sehingga tidak mudah patah ketika dianyam. Batang yang dipilih pun harus panjang dan besar agar hasil anyaman berkualitas.

Daun-daun Kolosua kering menjadi simbol kebanggaan dan warisan Masyarakat Adat Pulau Wawonii.
Foto oleh Elsa Ayu Friska, 2025
Setelah dipanen warga, batang Kolosua ini mereka jemur di bawah terik matahari hingga benar-benar kering. Tahap ini penting agar batang mudah diproses lebih lanjut. Begitu kering, batang-batang itu dibersihkan, lalu dibelah menjadi helaian tipis, dan digulung membentuk bulatan besar. Gulungan ini akan disimpan selama sekitar satu minggu agar helaian menjadi lebih lurus dan siap dianyam.
Semua proses ini mereka lakukan secara manual tanpa bantuan mesin modern dan hanya menggunakan alat-alat sederhana yang diwariskan secara turun-temurun.
Perempuan desa sebagai penjaga tradisi dan penggerak ekonomi
Di Desa Tumbu-Tumbu Jaya, hampir setiap perempuan, terutama para ibu, memiliki kemampuan menganyam Kolosua. Aktivitas ini biasanya mereka lakukan selepas bekerja di kebun atau saat waktu luang. Menganyam tidak sekadar menjadi kegiatan pengisi waktu, tetapi telah menjadi bagian dari identitas dan kontribusi nyata mereka terhadap ekonomi keluarga.
Salah satunya adalah Irmawati, seorang ibu rumah tangga yang telah menekuni kerajinan ini selama lebih dari 10 tahun. Dari rumah sederhananya, Irmawati bisa memproduksi antara 15 hingga 20 anyaman per bulan. Produk yang ia buat cukup beragam, dari tikar, sajadah, tas, hingga tempat bumbu dapur.

Ibu Irmawati sedang membuat produk anyaman Kolosua.
Foto oleh Elsa Ayu Friska, 2025
“Kalau rajin, bisa lebih dari dua puluh sebulan. Tapi kadang juga tergantung cuaca, karena pengeringan Kolosua harus betul-betul kering di bawah matahari,” ujar Irmawati sambil menunjukkan tumpukan hasil karyanya.
Hasil anyamannya ia jual ke warga desa lain atau dikumpulkan oleh pengepul yang kemudian membawanya ke pasar-pasar di Kendari atau kota-kota lain di Sulawesi Tenggara. Harga produk-produknya bervariasi, mulai dari Rp50.000 hingga Rp200.000, tergantung ukuran dan warna anyaman. Irmawati juga menerima pesanan khusus dari pelanggan yang menginginkan desain atau ukuran tertentu.
“Hasil dari menganyam ini sangat membantu, apalagi kalau sedang tidak musim panen di kebun,” tambahnya.
Menjaga alam, merawat warisan
Di tengah arus modernisasi dan tekanan ekonomi pedesaan, keberadaan Kolosua dan tradisi menganyam menjadi bukti bahwa alam dan kearifan lokal dapat saling menguatkan. Warga desa memanen Kolosua secara selektif, menjaga pertumbuhan alaminya agar tetap lestari.
Potensi kerajinan ini layak mendapat perhatian lebih dari pemerintah maupun pihak yang peduli terhadap budaya dan ekonomi Masyarakat Adat. Dukungan berupa pelatihan desain, pemasaran digital, hingga penguatan koperasi desa bisa memperluas pasar dan meningkatkan kesejahteraan pengrajin.
Dari sebuah desa kecil di ujung Sulawesi Tenggara, Kolosua membawa pesan tentang ketekunan, kemandirian, dan cinta terhadap alam. Di setiap helai anyaman buatan tangan para ibu di Tumbu-Tumbu Jaya, tersimpan kisah tentang perempuan, tanah, dan masa depan.

Beragam produk hasil olahan daun Kolosua.
Foto oleh Elsa Ayu Friska, 2025
Di Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia, kita diingatkan bahwa menjaga alam tak terpisahkan dari perjuangan mempertahankan wilayah dan budaya. Kolosua membuktikan bahwa hidup selaras dengan alam bukan hanya mungkin, tapi juga menopang kehidupan sehari-hari.
Kisah ini kami angkat untuk merayakan HIMAS, sebagai pengingat bahwa menjaga budaya dan merawat alam adalah bentuk perlawanan paling bermakna di tengah dunia yang terus berubah. Warisan leluhur bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dijalani dan dihidupi.
*Tulisan ini adalah bentuk kolaborasi Kaoem Telapak dengan Elsa Ayu Friska, KAoem MUda di Sulawesi Tenggara

