Agustus 28, 2026 3:49 AM | kaoem@kaoemtelapak.org

Berjuang untuk keadilan ekologi

kaoem@kaoemtelapak.org

Agustus 28, 2026 3:49 AM

Membangun Generasi Pemantau Hutan Muda di Maluku melalui Pelatihan GTID

Penulis: Tim Komunikasi dan KAoem MUda

Puluhan orang muda adat dan komunitas lokal dari berbagai wilayah Maluku turun langsung ke hutan di Negeri Saunulu, Pulau Seram. Mereka tidak datang untuk bertualang, melainkan membawa misi krusial: belajar menjadi garda terdepan pemantau hutan.

Bertempat di Negeri Saunulu pada 1–6 Juni 2026, Kaoem Telapak menggagas Pelatihan Pemantauan Hutan. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi orang muda untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan, dan jejaring dalam menjaga hutan serta ruang hidup masyarakat adat, di tengah meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam di Maluku.

Pelatihan pemantauan ini bukan sekadar ruang belajar teknis. Kegiatan ini menjadi upaya untuk membangun orang muda yang bisa aktif lagi menjaga hutan melalui dokumentasi, pemantauan, dan advokasi berbasis data. Peserta mendapatkan materi mengenai tata kelola kehutanan, hak-hak masyarakat adat, penggunaan teknologi sederhana untuk dokumentasi lapangan, hingga teknik riset dan verifikasi informasi. 

Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai metode pemantauan lingkungan berbasis komunitas, termasuk pemanfaatan platform Ground-truthed Indonesia (GTID) sebagai alat untuk mendokumentasikan kondisi lapangan, memantau perubahan tutupan hutan, serta melaporkan berbagai indikasi pelanggaran yang terjadi di wilayah mereka. Berbeda dengan pelaporan konvensional, GTID memungkinkan dokumentasi pelanggaran di lapangan langsung terverifikasi secara digital. Platform ini dapat diakses oleh siapa saja serta memadukan teknologi web dan aplikasi Android.

Darurat Deforestasi di Maluku

Pelatihan ini diselenggarakan dalam konteks situasi ekologis Maluku yang menghadapi tekanan semakin besar terhadap kawasan hutan dan wilayah adat. Dengan luas kawasan hutan mencapai sekitar 3,9 juta hektar atau sekitar 81 persen dari total daratan, Maluku memiliki posisi penting sebagai benteng keanekaragaman hayati sekaligus sumber penghidupan bagi masyarakat adat dan komunitas lokal.

Namun, berbagai ancaman terus membayangi kawasan hutan tersebut. Dalam kurun waktu 2001–2024, Maluku kehilangan sekitar 260 ribu hektar tutupan pohon. Tekanan tersebut muncul melalui ekspansi konsesi kehutanan, pertambangan, perkebunan, perdagangan kayu ilegal, pembangunan infrastruktur, hingga berbagai proyek pemanfaatan sumber daya alam yang berpotensi mengancam ruang hidup masyarakat.

Di sejumlah wilayah seperti Pulau Seram, Pulau Buru, Kepulauan Aru, dan Kepulauan Tanimbar, masyarakat adat masih menghadapi persoalan tumpang tindih izin dengan wilayah adat, kerusakan lingkungan akibat aktivitas ekstraktif, hingga ancaman terhadap sumber air, kawasan sakral, dan sumber penghidupan mereka. Kondisi ini menunjukkan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam upaya pemantauan dan perlindungan lingkungan berbasis komunitas.

Suara dan Harapan dari Garis Depan 

Salah satu peserta pelatihan, Johanis atau yang akrab disapa Anes, merasakan manfaat dari pelatihan tersebut. Menurutnya, pemantauan dan pendokumentasian kondisi hutan menjadi penting bagi orang muda adat Maluku saat ini.

“Saya sangat bersyukur karena ada kegiatan pelatihan pemantauan hutan yang dilakukan di Pulau Seram, khususnya di Negeri Saunulu. Apa yang saya dapatkan selama proses pelatihan ini sangat berguna untuk meningkatkan partisipasi pemuda adat dalam menjaga lingkungan hidup dan ruang hidupnya, khususnya bagi kami di Maluku,” ujarnya.

Menurut Anes, pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga membangun kesadaran bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan keterlibatan aktif orang muda. Ia berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata di komunitas masing-masing dan semakin banyak orang muda  adat di Maluku maupun wilayah lain di Indonesia yang memperoleh kesempatan serupa untuk memperkuat kapasitas mereka dalam pemantauan hutan dan perlindungan lingkungan.

“Kami berharap ada tindak lanjut dari apa yang telah kami pelajari selama pelatihan ini sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat adat, terutama kelompok-kelompok rentan yang sering terdampak oleh kebijakan yang tidak adil. Kami juga berharap lebih banyak lagi pemuda adat yang mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan pemantauan hutan dan penguatan kapasitas lainnya,” tambahnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Angelin, perempuan muda adat asal Kabupaten Seram Bagian Barat. Baginya, pelatihan pemantauan hutan ini menjadi kesempatan penting untuk memperdalam pemahaman mengenai advokasi lingkungan dan perlindungan ruang hidup masyarakat adat.

“Saya merasa terpanggil sebagai orang muda di Maluku, khususnya di Pulau Seram, untuk memahami lebih jauh tentang advokasi dan pemantauan hutan. Selama pelatihan, kami belajar banyak hal baru, mulai dari teknik dokumentasi yang lebih baik hingga pemanfaatan berbagai aplikasi yang dapat membantu kerja-kerja pemantauan dan advokasi lingkungan,” ujarnya.

Angelin mengatakan pelatihan ini memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat adat di Maluku bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Di berbagai wilayah Indonesia, banyak komunitas menghadapi tantangan serupa dalam mempertahankan hutan dan wilayah adat mereka dari berbagai perampasan wilayah adat dan bentuk eksploitasi sumber daya alam dalam ruang hidup.

 “Awalnya saya belum mengetahui banyak hal. Namun, setelah mengikuti pelatihan ini, saya menyadari bahwa bukan hanya kami di Seram dan Maluku yang berjuang menyuarakan persoalan lingkungan dan perampasan ruang hidup masyarakat adat. Ada banyak orang muda yang bersama-sama bergerak dan saling mendukung untuk menjaga hutan serta menyuarakan berbagai persoalan lingkungan, termasuk praktik pembalakan liar atau  illegal logging,” katanya.

Di akhir kegiatan, Angelin mengajak orang muda Maluku untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan dan hutan di wilayahnya. Menurutnya, hutan dan pulau-pulau di Maluku membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda agar tetap lestari untuk generasi mendatang.

“Mari kita sadar bahwa hutan kita sedang tidak baik-baik saja. Pulau-pulau kita sedang memanggil kita sebagai orang muda untuk peduli dan bertindak. Kalau bukan kita yang menjaga alam ini, lalu siapa lagi? Mari kita bangun jejaring, saling bahu-membahu untuk memantau, menjaga, dan mengadvokasi berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di Maluku, terutama di wilayah-wilayah terpencil,” tuturnya.

Ia pun menutup pesannya dengan ungkapan sederhana dalam bahasa Maluku yang mencerminkan hubungan erat masyarakat adat dengan tanah dan hutannya:

“Mari katong jaga katong pung mama, katong pung tanah. Nusa Ina ini katong mama. Jangan sampai katong biking mama menangis.”

Langkah kecil puluhan pemuda di Negeri Saunulu ini adalah harapan besar bagi paru-paru dunia di Timur Indonesia. Dengan bekal data, teknologi, dan jejaring yang kuat, mereka pulang bukan 3sekadar sebagai peserta pelatihan, melainkan sebagai penjaga baru bagi ‘Nusa Ina’. Seperti janji yang mereka ucapkan: mari jaga mama, agar mama tidak menangis. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dengan mendaftar ke mailist, anda menyetujui untuk mendapatkan pemberitahuan email baik berita, penawaran, dan informasi lain dari Kaoem Telapak. Klik di sini untuk melihat kebijakan Kebijakan Privasi kami. Tautan keluar dari mailist disertai pada setiap email.

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Cookie Dasar

Cookie yang diperlukan mengaktifkan fungsionalitas inti. Situs web tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa cookie ini, dan hanya dapat dinonaktifkan dengan mengubah preferensi browser Anda

Cookie analitik membantu kami meningkatkan situs web kami dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi tentang penggunaannya

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.