Agustus 28, 2026 3:51 AM | kaoem@kaoemtelapak.org

Berjuang untuk keadilan ekologi

kaoem@kaoemtelapak.org

Agustus 28, 2026 3:51 AM

Pulau Nagamadoto Putus, Gugusan Pulau-Pulau Kecil Indonesia Lainnya Turut Terancam Oleh Perubahan Iklim dan Eksploitasi Alam

Oleh: Supriman D. Siki Mahuseng (KAoem MUda) dan Tim Media Kaoem Telapak*

Pulau Nagamadoto di Desa Mano, Halmahera Selatan, Maluku Utara telah putus dan terbelah menjadi dua bagian akibat peristiwa alam dan eksploitasi alam oleh aktivitas manusia. Peristiwa ini bukan hanya mempengaruhi aktivitas pariwisata di pulau tersebut, namun juga merupakan peringatan bahwa gugusan pulau-pulau kecil lainnya di Indonesia juga turut terancam oleh fenomena yang serupa.

Pesisir pantai di Pulau Nagamadoto, salah satu titik pemberhentian wisatawan yang berkunjung dengan perahu. Foto oleh Supriman D. Siki Mahuseng, 2025

Terhitung tanggal 17 Agustus 2025 kemarin, terdapat jarak sekitar 70 meter di antara Pulau Nagamadoto dengan pulau pecahannya yang kini terpisahkan oleh air laut. Hamparan lahan kecil yang sebelumnya memiliki pepohonan dan menjadi salah satu titik daya tarik wisatawan ini sudah tergenang air laut.

Hasil temuan ini disampaikan oleh Amruzil, Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Mano (IPMM) yang pada saat itu mengunjungi Pulau Nagamadoto dan mengukur jarak belahan pulau tersebut.

Amruzil mengatakan, “Dulu ada hamparan pasir putih bercampur tanah dan pepohonan yang menyambungkan area besar Pulau Nagamadoto dengan area pulau kecilnya. Tapi sekarang, tidak ada lagi pepohonan tersebut dan air laut telah memisahkan dua area tersebut menjadi dua pulau terpisah.”

Keindahan alam dari Pulau Nagamadoto

Terletak di ujung daratan yang berbatasan dengan lautan bebas, pulau Nagamadoto berbatasan dengan Pulau Gamumu di sebelah barat dan Pulau Obi, yang saat ini menjadi lokasi pertambangan nikel, di sebelah utara.

Pulau Nagamadoto juga merupakan pulau favorit sebagai titik wisata yang disanjung-sanjung oleh masyarakat Obi Selatan atas keindahannya, seperti hamparan pasir putih indah sepanjang bibir pantai yang dikelilingi oleh air yang jernih berwarna hijau muda, ditambah dengan hamparan terumbu karang yang eksotis di pesisir pulau dengan ciri khas habitat laut yang indah.

Karena daya tarik tersebut, masyarakat di sekitar Pulau Nagamadoto kerap menjadikan pulau tersebut sebagai objek wisata alam yang ramai dikunjungi banyak orang. Baik itu keluarga, kawan-kawan, maupun para pegawai tambang nikel di Pulau Obi kerap mengunjungi pulau tersebut dengan ‘pentura’ (perahu panjang), ‘katinting’ (perahu kayu bermesin), speedboat, dan perahu-perahu nelayan lainnya untuk berlibur di sana.

Bahkan, sejak tahun 2021 hingga saat ini, jumlah wisatawan yang mengunjungi Pulau Nagamadoto meningkat hingga ribuan orang.

Sekelompok orang mengarungi Pulau Nagamadoto dengan perahu mesin. Foto oleh Supriman D. Siki Mahuseng, 2025

Para wisatawan yang mengendarai kapal/perahu menuju Pulau Nagamadoto pun bukan hanya menghibur diri ketika tiba di pulau tersebut, namun juga sepanjang perjalanan menuju ke sana. Umumnya, mereka berlayar melalui dua titik untuk mencapai pulau tersebut, yang salah satunya melalui jalur luar pulau dari Desa Mano untuk menikmati pemandangan hamparan pulau-pulau kecil kehijauan yang dikelilingi oleh laut biru.

Titik kedua adalah mengarungi jalur dalam yang dihimpit oleh Pulau Peti, Pulau Paniki, dan pulau-pulau kecil yang lainya. Turis dapat melihat lebih dekat kekayaan alam di hempasan gugusan pulau seperti burung kelelawar yang bergelantungan di pohon bakau dan ikan-ikan yang bermain di permukaan air maupun di dasar laut yang penuh akan terumbu karang.

Perubahan perlahan-lahan pada Pulau Nagamadoto

Akan tetapi, perubahan mulai terjadi secara perlahan namun pasti. Warga lokal mengamati perubahan tersebut seiring waktu berjalan di Pulau Nagamadoto yang akrab mereka sebut Pulau Dobu-Dobu. 

Pantai pasir putih “Dobu-Dobu,” julukan warga lokal terhadap Pulau Nagamadoto. Foto oleh @Welkom_3535 di TikTok, 2025

Dauf, berasal dari keluarga pemilik kebun di Pulau Nagamadoto, mengatakan bahwa gelombang ombak yang semakin tinggi dan mencapai daratan menjadi salah satu penyebab dari abrasi pantai yang semakin mengikis hamparan kecil yang menghubungkan bagian besar pulau tersebut dengan bagian kecilnya.

“Tiap tahun di bulan Juli dan Agustus, ada musim ombak di pantai yang hasilnya itu gelombang air laut naik tinggi sekali. Tapi akhir-akhir ini, ombaknya jauh lebih tinggi sampai naik ke daratan hingga terjadi abrasi pantai, lalu hamparan daratan tipis di Pulau Nagamodoto pun pelan-pelan terputus,” ujar Dauf.

Pernyataan tersebut menggambarkan bentuk nyata kerusakan iklim yang menyebabkan terkikisnya bagian dari Pulau Nagamadoto merupakan masalah serius yang mempengaruhi lingkungan dan ekosistem secara nyata.

Akan tetapi, kerusakan iklim bukan satu-satunya penyebab perpecahan Pulau Nagamadoto tersebut. Manusia juga menjadi salah satu penyebab utama peristiwa tersebut terjadi.

Bagian pantai pasir putih “Dobu-Dobu” kini lenyap dan memecah Pulau Nagamadoto menjadi dua bagian. Foto oleh @Welkom_3535 di Tiktok, 2025

Pertama, masyarakat di Pulau Nagamadoto maupun di luar pulau kerap mengambil pasir di pulau itu untuk kebutuhan pembangunan rumah dan pembangunan lainnya, sehingga keindahan hamparan pasir tersebut mulai lenyap dari pulau tersebut.

Kemudian, penebangan liar pohon-pohon di sepanjang bibir pantai Pulau Nagamadoto mengurangi area hijau pulau tersebut dan melemahkan struktur di sepanjang pantai tersebut hingga akhirnya abrasi pantai pun terjadi.

Tidak lupa juga, fenomena kerusakan iklim ini merusak ekosistem terumbu karang dan melemahkan fungsi mereka sebagai peredam energi ombak yang semakin kencang dengan intensitas tinggi.

Sebuah peringatan untuk lebih melindungi kelestarian alam

Putusnya pulau Nagamadoto ini bukan hanya sekedar hal yang biasa terjadi melainkan hal serius yang harus ditanggapi oleh semua orang, karena fenomena alam ini juga berpotensi mempengaruhi gugusan pulau-pulau kecil lainnya yang merupakan bagian dari 17.380 pulau yang terdaftar dalam laporan Badan Informasi Geospasial (BIG) pada Desember 2024.

Ekosistem terumbu karang adalah salah satu indikator utama dalam mengawasi kerusakan iklim. Akibat pemanasan global yang merupakan bagian dari kerusakan tersebut, ekosistem terumbu karang yang umumnya sangat rentan terhadap perubahan suhu di laut akan rusak dan menghilang.

Hal ini berbahaya bagi pulau-pulau di Indonesia, karena terumbu karang memiliki beragam manfaat yang salah satunya adalah melindungi pantai dari erosi dan abrasi dengan menjadi benteng yang dapat menahan ombak dan arus laut. 

Tanpa adanya terumbu karang, jumlah pulau-pulau kecil yang lenyap akan semakin bertambah akibat gelombang air laut yang semakin meninggi dan kencang, serta kerusakan alam yang terjadi pada Pulau Nagamadoto pun akan terjadi pada pulau-pulau lainnya.

Institusi nasional dan internasional menanggapi isu kerusakan iklim yang berdampak pada laut dan pulau-pulau kecil. Program Lingkungan Hidup PBB (United Nations Environment Programme/UNEP) mengangkat tema “Raise Your Voice, Not the Sea Level” pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2014, yang kemudian diadaptasikan oleh Indonesia menjadi “Satukan Langkah, Lindungi Ekosistem Pesisir dari Dampak Perubahan Iklim.”

Akan tetapi, usaha tersebut jauh dari kata cukup.

Demi melindungi pulau-pulau di Indonesia, seluruh masyarakat Indonesia harus melindungi kelestarian alam demi mempertahankan ekosistem yang masih ada. Jangan sampai peristiwa yang terjadi pada Pulau Nagamadoto ini terjadi juga kepada pulau-pulau lainnya di Indonesia.

*Tulisan ini adalah bentuk kolaborasi Kaoem Telapak dengan Supriman D. Siki Mahuseng, KAoem MUda di Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dengan mendaftar ke mailist, anda menyetujui untuk mendapatkan pemberitahuan email baik berita, penawaran, dan informasi lain dari Kaoem Telapak. Klik di sini untuk melihat kebijakan Kebijakan Privasi kami. Tautan keluar dari mailist disertai pada setiap email.

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Cookie Dasar

Cookie yang diperlukan mengaktifkan fungsionalitas inti. Situs web tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa cookie ini, dan hanya dapat dinonaktifkan dengan mengubah preferensi browser Anda

Cookie analitik membantu kami meningkatkan situs web kami dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi tentang penggunaannya

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.