Ditulis Oleh: Agetha Tri Lestari*
Riau, Indonesia – Di sudut Desa Rantau Langsat, jauh di pedalaman, nama Syafaruddin, yang lebih akrab disapa Nek Tatung, dikenal sebagai sosok yang penuh dedikasi. Sebagai Dewan Adat Batang Gansal sekaligus Ketua Adat, ia telah mendedikasikan hidupnya untuk menjaga tradisi, memajukan pendidikan, dan memperjuangkan masa depan anak-anak di kawasan hutan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT).

Kondisi Sekolah di Desa Datai
Foto: Agetha Tri Lestari
Mengajar dari Nol di Datai
Nek Tatung, pekerja sosial asal Rantau Langsat, telah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan anak-anak di Dusun Datai. Pada awal 2000-an, ia membuka ruang belajar sederhana setelah melihat banyak anak buta huruf, meski harus menempuh perjalanan empat hari dengan kapal dari Kampungnya. “Biarpun sulit, saya tak mau anak-anak ini tumbuh tanpa bisa membaca atau menulis,” ujarnya.
Bekerja sama dengan Program Konservasi Harimau Sumatera (PKHS), mitra Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), Nek Tatung berkontribusi dalam meningkatkan pendidikan di wilayah terpencil. Dukungan PKHS memungkinkannya mengajarkan ilmu dasar sekaligus menginspirasi anak-anak untuk bermimpi lebih besar. “Pendidikan adalah kunci untuk keluar dari keterbatasan,” tegasnya.
Meskipun akses terbatas menjadi tantangan, semangat Nek Tatung tidak pernah surut. Ia yakin bahwa pendidikan dan pelestarian adat adalah kunci masa depan yang lebih baik. “Pendidikan adalah harapan kami,” tambahnya dengan penuh keyakinan.

Kondisi Anak-Anak Datai
Foto: Agetha Tri Lestari
Guru Gambus dan Penjaga Tradisi
Selain mendidik anak-anak di bidang akademik, Nek Tatung juga berperan sebagai guru gambus, alat musik tradisional suku Talang Mamak. Ia menjadikan seni gambus sebagai sarana untuk melestarikan warisan budaya sekaligus menanamkan nilai-nilai adat kepada generasi muda. Baginya, gambus bukan sekadar musik, melainkan medium penting untuk menjaga identitas budaya. Ia tak hanya mengajarkan pelajaran akademik, tetapi juga nilai ketangguhan dan semangat juang yang diwariskan kepada generasi penerus.
“Melalui gambus, saya ingin mereka paham bahwa tradisi adalah bagian dari identitas kita. Kita bisa maju tanpa melupakan asal-usul,” ujar Nek Tatung.
Kehidupan Anak-Anak di Dusun Datai
Anak-anak di Dusun Datai hidup dalam keterbatasan yang jauh berbeda dari anak-anak di daerah lain. Tanpa listrik, akses internet, dan infrastruktur jalan memadai, mereka menghadapi tantangan besar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, semangat belajar mereka tetap menyala di SDS Marginal Datai, satu-satunya sekolah di desa itu, yang hanya memiliki tiga ruang kelas sederhana. Sekitar 30 siswa belajar membaca, menulis, dan keterampilan dasar lainnya di sekolah ini, hasil inisiatif masyarakat setempat dengan dukungan berbagai pihak.
Sukar, Mangku Datai, mengatakan bahwa pendidikan menjadi kunci bagi masa depan desanya. “Kami paham tentang hutan dan hukum adat, tapi kurangnya pendidikan adalah kelemahan kami. Itu yang harus diperbaiki agar Datai bisa berkembang,” ujarnya

Nek Tatung (kanan) Diwawancarai
Dedikasi Sepanjang Hayat
Muslimin, tokoh Pemuda Adat Talang Mamak, mengakui bahwa Nek Tatung lebih dari sekadar guru—ia adalah pahlawan pembawa harapan. Ia tak hanya mengajarkan pelajaran akademik, tetapi juga nilai ketangguhan dan semangat juang yang diwariskan kepada generasi penerus. “Dedikasi Nek Tatung membangun pendidikan di tengah keterbatasan adalah bukti nyata komitmennya menciptakan perubahan, meskipun dimulai dari langkah kecil. Ia juga menjaga lingkungan dengan filosofi lokal: langit adalah bapak, bumi adalah ibu, dan hutan adalah tubuh—tulang, urat, dan daging—yang harus dilestarikan. Filosofi ini terus ia tanamkan kepada generasi muda adat,” jelas Muslimin.
Bagi Nek Tatung, pendidikan bukan sekadar soal ilmu pengetahuan, melainkan juga membangun kekuatan batin dan semangat untuk meraih impian. Di tengah dunia yang terus berubah, ia menjadi teladan bahwa tindakan kecil yang dilakukan dengan ketulusan dapat membawa dampak besar bagi mereka yang membutuhkan.
Meski hampir berusia 60 tahun, Nek Tatung tetap semangat mengabdikan diri untuk pendidikan anak-anak Talang Mamak. Walaupun keterbatasan fasilitas dan akses sulit menjadi tantangan, pendidikan adalah kunci membuka peluang bagi generasi muda. “Selama masih ada waktu dan tenaga, saya akan terus berusaha. Anak-anak ini adalah masa depan kita,” katanya.
*Penulis merupakan Juru Kampanye Kaoem Telapak

