Ditulis oleh: S.R. Megumi dan Yurissa
Di pesisir Kota Makassar, di sebuah kampung kecil bernama Lantebung, suara perlawanan lahir bukan lewat teriakan atau spanduk protes, melainkan dari akar-akar mangrove yang ditanam satu demi satu. Di tengah derasnya pembangunan kota dan bayang-bayang reklamasi, sekelompok orang muda berdiri menjaga hutan terakhir mereka. Komunitas ini bernama Ikatan Keluarga Lantebung (IKAL).

Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional, IKAL mengadakan aksi bersih-bersih di wilayah hutan mangrove
Sumber: Instagram @ikatan_keluarga_lantebung
Salah satu anggota IKAL, sebut saja Syasa (bukan nama sebenarnya), membagikan kisah bagaimana ia dan kawan-kawannya berjuang menyelamatkan hutan mangrove yang tersisa. Syasa bukan berasal langsung dari komunitas adat, namun sejak bergabung dengan IKAL, ia menemukan ikatan yang kuat antara identitas, ruang hidup, dan perjuangan kolektif.
IKAL menginisiasi gerakan bernama #BerlawanDenganMenanam aksi pemulihan mangrove yang kini menjelma menjadi gerakan sosial orang muda pesisir. “Fokus kami memang di mangrove, karena itu yang paling dekat dan paling terancam di sini,” ujar Syasa.
Wilayah Lantebung pernah memiliki potensi besar. Pada 2023, kawasan ini bahkan sempat menerima penghargaan ekowisata. Namun, kondisi itu tak bertahan lama. Kini, banyak area sudah rusak. Hutan mangrove terdesak oleh gudang-gudang produksi, kilang gas di seberang laut, dan rencana pembangunan jalur kereta api yang akan melintasi cekungan mangrove. Reklamasi juga menjadi ancaman nyata yang perlahan mendekat.
Namun bagi Syasa dan teman-temannya, menyerah bukanlah pilihan. Mereka terus melakukan aksi positif, tidak hanya menanam mangrove, tetapi juga menanam kesadaran. IKAL secara rutin mengedukasi warga sekitar mengenai pentingnya hutan mangrove dan konsekuensi hukum jika dirusak. “Dulu masih banyak yang ambil mangrove tanpa tahu itu dilarang,” kata Syasa.

Aksi bersih-bersih IKAL di wilayah hutan mangrove untuk memberingati Hari Peduli Sampah Nasional
Sumber: Instagram @ikatan_keluarga_lantebung
Gerakan orang muda di IKAL dimulai pada April 2019, meski hingga kini belum memiliki legalitas resmi. Dengan semangat yang tak pernah padam, kini komunitas ini terdiri dari sekitar 30 pemuda-pemudi yang aktif terlibat. Salah satu momen berkesan bagi mereka adalah ketika mengikuti kegiatan ‘Hutan Merdeka’ sebuah kegiataan kepemudaan yang diisi dengan pertunjukan adat dan ruang refleksi. “Di momen ini kami ingin bilang kami ada, kami bertahan untuk menjaga wilayah serta alam yang kami miliki,” tutur Syasa.
Bagi mereka, tantangan terbesar bukan hanya datang dari kerusakan yang tampak, tetapi juga dari ketidakpastian masa depan. “Proyek-proyek besar yang tak melibatkan suara warga, reklamasi yang membayangi, dan sistem yang kerap abai pada wilayah pinggiran… Kami ingin meyakinkan teman-teman bahwa ancaman itu nyata. Tapi memang tak mudah, karena dampaknya tak langsung terasa hari ini,” ucapnya.
Seperti mangrove yang tumbuh lambat namun kuat, komunitas ini memilih untuk bertahan perlahan, berbagi pengetahuan, dan membangun kekuatan bersama. Syasa aktif mengikuti berbagai pelatihan lingkungan seperti peningkatan kapasitas Pemuda Adat yang diselenggarakan oleh Kaoem Telapak, dan menyebarkan kembali ilmu yang telah didapat dengan harapan dapat diterapkan di wilayah atau kampung mereka.
Menurut Syasa, dukungan dari pihak luar, seperti Kaoem Telapak, memberikan semangat tambahan, “Kami merasa tidak sendiri. Anak muda pesisir juga bisa jadi penggerak perubahan,” katanya.
Syasa dan kawan-kawan percaya, perubahan bisa dimulai dari hal kecil seperti menanam satu pohon mangrove dengan hati-hati. Karena dari situ, harapan tumbuh. Ia akan rimbun, melindungi kampung, dan menyimpan cerita generasi yang tak pernah lelah menjaga alamnya.

