Penulis: Sophia Nusantara Kolaborasi dengan Agetha Lestari, Juru Kampanye Kaoem Telapak
Angin laut Payum berhembus pelan, membawa cerita yang tidak selalu terdengar dari luar. Di pesisir ini, kehidupan berjalan di antara laut, keluarga, pohon kelapa, dan kerja-kerja perempuan adat yang saling menguatkan.
“Sa mama Honorata, ketua Payum Iwag,” ujar Mama Honorata memperkenalkan dirinya. Dalam dialek Papua, kalimat itu kurang lebih berarti, “Saya Mama atau Ibu Honorata, Ketua Payum Iwag.” Sebutan “mama” sendiri merupakan sapaan yang lekat bagi perempuan dalam konteks sosial Papua. Sementara “Payum Iwag” bermakna Perempuan Adat Malind yang mandiri, kuat, dan mampu berdiri di kaki sendiri.

(Doc. Sophia Nusantara)
Bagi Mama Honorata, kalimat ini bukan sekadar arti, tetapi arah. Ia lahir dari keseharian perempuan adat Malind, banyak diantaranya merupakan istri nelayan yang memegang peran penting dalam rantai ekonomi pesisir, terutama dalam mengolah dan memasarkan hasil tangkapan. Dalam konteks sosial budaya Payum yang relatif inklusif, perempuan adat tidak hanya berada di ranah domestik, tetapi juga menopang ekonomi keluarga dan komunitas.
Berangkat dari berbagai tantangan yang dihadapi nelayan di Kampung Payum, Kelurahan Samkai, Merauke, seperti ketergantungan pada tengkulak, rendahnya nilai jual hasil tangkapan, serta terbatasnya akses terhadap pengetahuan dan diversifikasi usaha, kemudian masyarakat mulai melihat pentingnya membangun sumber penghidupan alternatif berbasis potensi lokal. Dari kebutuhan itulah Payum Iwag hadir sebagai ruang kolektif untuk memperkuat ekonomi perempuan adat sekaligus mendorong kemandirian masyarakat adat pesisir.
Sejak lama, perempuan adat di wilayah ini telah menjadi bagian penting dari ekonomi keluarga. Mereka tidak hanya mengurus rumah, tetapi juga aktif mengolah dan memasarkan hasil laut. Namun, keterbatasan akses membuat ruang gerak mereka belum sepenuhnya berkembang.
Dari tantangan tersebut, muncul upaya untuk mencari sumber penghidupan lain yang tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari dengan memanfaatkan tumbuhan kelapa, yang tumbuh melimpah di sekitar kampung mereka. Perempuan Adat Malind di Payum kemudian mulai mengolah kelapa menjadi produk bernilai tambah seperti body butter, body scrub, lip balm, dan sabun alami bersama pendampingan Sophia Nusantara.

(Doc. Sophia Nusantara)
Di tangan Perempuan Adat Payum, kelapa menjadi jembatan antara pengetahuan lokal dan peluang baru. Mereka tidak lagi hanya menjual bahan mentah, tetapi mulai menentukan nilai dari produk yang mereka hasilkan sendiri. Proses ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga tentang melihat kembali potensi yang mereka miliki.
Pilihan mengembangkan produk perawatan tubuh menjadi salah satu cara untuk memperluas ruang Perempuan Adat dalam ekonomi kreatif. Perempuan Adat Malind di Payum tidak hanya hadir sebagai konsumen, tetapi sebagai pencipta dan inovator yang membawa pengetahuan lokal ke dalam produk bernilai tinggi tanpa harus kehilangan identitasnya.
Kristina Isop, Manajer Marketing Payum Iwag, menjadi bagian dari perjalanan ini. “Sa (saya) bangga bisa bantu mama-mama Malind jual produk torang (kami) keluar kampung sampai dikenal orang,” kata Kristina. Proses ini diisi dengan belajar bersama, mulai dari pengemasan, pemasaran, hingga membangun kepercayaan diri untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

“Lewat Payum Iwag, torang belajar bahwa perempuan adat juga mampu bersaing dan maju dengan karya sendiri”, tambahnya. Ini adalah penegasan bahwa kemampuan tersebut telah ada dan berkembang ketika diberi ruang.
Pengembangan produk berbasis kelapa ini tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperkuat posisi Perempuan Adat dalam ekonomi lokal. Pendekatan ini sekaligus mencerminkan praktik yang berkelanjutan, karena memanfaatkan sumber daya sekitar secara bijak tanpa merusak lingkungan.

(Doc. Sophia Nusantara)
Perubahan yang terjadi mungkin tidak selalu besar, tetapi terasa dalam keseharian. Dari hal ini, Perempuan Adat mulai memiliki ruang lebih luas dalam pengambilan keputusan, baik di tingkat keluarga maupun kelompok. Ada kepercayaan diri yang tumbuh, keberanian untuk mencoba, dan keyakinan untuk melangkah lebih jauh.
Payum Iwag menunjukkan bahwa kekuatan Perempuan Adat telah lama ada dalam pengalaman dan kerja-kerja mereka. Ketika ruang itu dibuka, Perempuan Adat tidak hanya bertahan, tetapi juga menciptakan perubahan bagi diri, keluarga, dan komunitas.

