Ditulis oleh: Muhammad Khalid
Di tengah gempuran dan tantangan yang ada, orang muda Papua terus berjuang untuk hutan yang tersisa. Mereka bukan hanya sedang menjaga wilayah dan kekayaan mereka, tetapi juga menjaga hutan yang tidak bisa dipungkiri, merupakan sumber kehidupan bersama.

Kesepakatan di Kelas
Tanah Papua memiliki potensi hutan alam terluas di seluruh Indonesia. Berdasarkan data yang dirilis oleh Yayasan Bentala Rakyat (2021), terdapat 33.847.928 hektar hutan alam tersisa di Tanah Papua. Meskipun demikian, pada saat yang sama deforestasi atau kehilangan tutupan hutan alam di Tanah Papua mencatatkan angka 765,71 hektare pada rentang Januari – Februari 2024. Sorong Selatan dan Kabupaten Sorong menjadi dua wilayah dengan luasan hutan yang cukup besar di Provinsi Papua Barat Daya tersebut, sekaligus juga menghadapi ancaman deforestasi yang serius.
10 – 14 September 2024, Kaoem Telapak menyelenggarakan pelatihan tingkat dasar sebagai upaya pemantauan hutan bagi Pemuda Adat. Bertempat di kota Sorong, Pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat komitmen, kolaborasi, dan meningkatkan keterampilan terkait dokumentasi, navigasi, dan advokasi dasar yang diperlukan untuk menyelamatkan hutan di tingkat tapak. 16 Pemuda Adat dari 8 komunitas Masyarakat Adat mengikuti pelatihan ini.
“Di sekitar tempat tinggal kami ada hutan yang menjadi sumber penghidupan, dengan beragam jenis burung dan tumbuhan yang bisa kita lihat sehari-hari. Namun, kehadiran investor membuat kelestarian tersebut semakin terancam,” ungkap Yosa (bukan nama sebenarnya – red), salah satu peserta pelatihan.

Suasana di kelas
Hari pertama pelatihan, para peserta mendapat materi terkait urgensi dan pengantar awal pemantauan hutan. Sesi ini dibawakan melalui berbagai bentuk aktivitas, mulai dari paparan materi, diskusi per kelompok, hingga games yang ditujukan untuk membantu pemahaman materi.
Hari kedua mulai masuk ke materi dasar-dasar dokumentasi untuk pemantauan serta navigasi dasar menggunakan aplikasai Avenza. Peserta diperkenalkan dengan alat beserta fitur-fiturnya yang dapat mendukung kerja-kerja pemantauan di lapangan.
Hari ketiga dan keempat, peserta diminta untuk mempraktikkan secara langsung keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya, mulai dari foto, video, dan navigasi dengan teknik yang benar. Trainer dari Kaoem Telapak turut mendampingi dan memberi feedback.
Hari terakhir pelatihan, peserta diajak untuk mengulas keseluruhan materi dan mendapat sesi terkait advokasi sebagai tindak lanjut pemantauan.
“Hal baru yang saya dapatkan adalah dasar-dasar pemantauan dengan 5W+1H. Saya juga dapat melakukan dokumentasi dan navigasi menggunakan Avenza, sehingga mendukung upaya pemantauan wilayah adat dan hutan,” ungkap Fred (bukan nama sebenarnya – red), peserta pelatihan.
Pelatihan telah usai, namun jalan panjang menjaga kelestarian hutan baru saja terbentang. Abu Meridian, Campaign Leader Kaoem Telapak, mengungkapkan bahwa usaha menyelamatkan hutan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan saja, namun perlu kerja kolaborasi yang intens, “Upaya pemantauan hutan merupakan kerja yang tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu yang singkat, tapi butuh konsistensi dan kolaborasi semua pihak. Terutama teman-teman Pemuda Adat yang tinggal langsung di tapak, teman-temanlah yang menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan hutan di negeri kita.”

