17 November 2024, Desa Les, Buleleng, Bali, mendapatkan Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 (ADWI) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Gede Yudarta, anggota Kaoem Telapak, punya cerita bagaimana merintis usaha pariwisata berkelanjutan di Desa Les ini.
Gede Yudarta menceritakan, di dekade akhir 90-an, sebelum usaha pariwisata populer di Desa Les, kebanyakan warga desa mencari nafkah dengan menangkap ikan hias. Metode penangkapan ikan yang biasa digunakan oleh masyarakat adalah dengan menggunakan racun potassium sianida. Praktik ini tentu saja punya dampak yang merusak. “Satu, pelaku menjadi keracunan, kedua ikan yang ditangkap menjadi sakit, ketiga terumbu karang rusak, di Desa Les hampir 75% terumbu karang rusak,” ungkap Gede.
Di 2000-an, Gede bercerita, Kaoem Telapak yang saat itu masih bernama Telapak datang ke Desa Les, mencoba mendampingi masyarakat sekitar. Bersama dengan lembaga lokal, Bahtera Nusantara, mereka memberikan pelatihan bagaimana menangkap ikan yang ramah lingkungan. “Metodenya menggunakan jaring-jaring penghalang,” kata Gede.
Tidak hanya itu, mereka pun berkolaborasi membuat film dokumenter berjudul Fish Don’t Cry. Menurut Gede, film dokumenter tersebut masih sangat relevan sampai hari ini. “Sampai sekarang jika ada anak sekolah atau tamu lainnya yang berkunjung, film itu pasti diputar,” kata Gede.
Setelah pelatihan, Masyarakat pun mendapat dukungan untuk melakukan usaha ekspor ikan hias di 2003. Dalam proses pendampingan usaha tersebut muncul wacana mengembangkan wisata yang berkelanjutan di Desa Les.
Wacana berubah menjadi aksi nyata ketika usaha ikan hias yang dikelola sudah tidak bisa dilanjutkan, sebab angka mortalitas ikan yang sangat tinggi. “Akhirnya, kami pun mencari-cari cara untuk membangun wisata bahari,” ungkap Gede.