Komunitas River Defender ini kerap melakukan ekspedisi menjelajah sungai-sungai di Riau, dari hulu sampai hilir. Komunitas ini makin lama makin aktif. Hisam pun diundang untuk menjadi Anggota Kaoem Telapak. “Pelantikannya di Kulon Progo, saat itu di Kaoem Telapak, saya lebih fokus ke aspek dokumentasi,” Hisam menjelaskan.
Setelah dilantik, Hisam makin aktif di isu lingkungan. Dia bersama rekan-rekannya mendirikan Yayasan Gambut dan Mangrove, sebuah Yayasan yang tujuannya untuk memantau ekosistem dan memberdayakan masyarakat di sekitar gambut dan mangrove. “Yayasan ini berdiri karena wilayah Riau sebagian besar adalah wilayah gambut dan mangrove,” begitu kata Hisam.
Yayasan ini kerap melakukan investigasi di kawasan gambut dan mangrove. Yayasan ini juga bicara soal kebakaran hutan. Selain itu, Yayasan ini pun mengajak masyarakat sekitar untuk menanam kopi liberika sebagai penghidupan alternatif. “Riau pernah mengalami kebakaran hutan yang parah, yang menyebabkan banyak wilayah di Riau tertutup asap. Dampaknya, penyakit gangguan pernapasan merajalela,” ungkapnya.
Saat ini, Hisam telah menjabat sebagai Komisioner KPID Riau selama dua periode. Menduduki jabatan strategis ini, Hisam tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk terus mengkampanyekan isu lingkungan. Dia kerap mengingatkan pada media penyiaran di Riau untuk konsisten meliput isu lingkungan. “Jangan melupakan porsi berita yang mengandung aspek lingkungan,” begitu kata Hisam.
Akan tetapi, Hisam mengakui ada beberapa tantangan yang membuat isu lingkungan kerap sulit mendapat tempat di media penyiaran. Menurut Hisam, tantangan yang pertama adalah adanya perubahan dalam industri penyiaran secara umum. “Orang mulai jarang yang menonton televisi dan mendengarkan radio. Semua beralih ke media berbasis internet,” katanya.
Perubahan pola konsumsi media ini, membuat banyak televisi dan radio lokal yang kesulitan mendapatkan pendanaan. Bahkan beberapa dibeli oleh pemain nasional. Oleh sebab itulah, Hisam sangat mengerti bila ada media penyiaran ketika ditagih untuk menyiarkan isu lingkungan, mereka menyiarkan produk liputan yang stok lama. “Ini karena biaya produksi yang tinggi sementara pemasukannya sedikit,” ujar Hisam.
Hisam berharap di masa depan, media penyiaran terus mendukung menyebarkan pesan pentingnya pelestarian lingkungan dan hutan, sehingga masyarakat dan kelompok orang muda pun meningkat kesadaran akan berbagai isu lingkungan. “Saya berharap masyarakat lebih peduli terhadap isu-isu lingkungan melalui media penyiaran,” ungkap Hisam.