Agustus 28, 2026 3:23 AM | kaoem@kaoemtelapak.org

Berjuang untuk keadilan ekologi

kaoem@kaoemtelapak.org

Agustus 28, 2026 3:23 AM

Kisah Supangat: Bertani Tanpa Mencangkul

‘Bertani tanpa mencangkul’ bukanlah kata-kata yang umum dilontarkan orang-orang, namun itulah gambaran yang sangat mencerminkan Supangat dalam perjalanan hidupnya merintis karir dan mendukung kesejahteraan ekonomi warga Dusun Ngaliyan, Kulon Progo.

Supangat adalah anggota Kaoem Telapak di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta yang kesehariannya bekerja dengan 25 petani dalam satu kelompok tani bernama Kelompok Sido Dadi. Mereka mengumpulkan hasil panen dan menitipkannya ke bakul keliling ataupun bakul lokal yang kemudian menjual hasil panen tersebut ke berbagai daerah di Kulon Progo.

Namun, ada hal-hal unik dari keseharian Supangat. Pertama, ia sendiri tidak turun ke lahan tani untuk mencangkul bersama para petani lainnya dan hanya terlibat di balik layar. Kedua, hasil panen mereka juga bukan satu atau dua jenis tumbuhan saja sepanjang tahun, melainkan beragam tumbuhan musiman yang berganti-ganti seperti kayu, pisang, cengkeh, kopi, dan kapulaga.

“Makanya saya menyebut diri saya ini ‘Petani yang tidak mencangkul.’ Saya lebih mengurus hasil pertanian dan manajemen keuangannya saja,” ucap Supangat.

Selain Kelompok Sido Dadi, Supangat juga mendirikan Kelompok Tani Hutan yang beranggotakan 21 orang. Sekali lagi, ia lebih aktif terlibat di belakang untuk membantu perencanaan dan operasional kelompok ini demi mendukung pelestarian hutan rakyat dan mata air Dusun Ngaliyan, terlebih karena daerah tersebut kerap menghadapi kekeringan.

Berkarir sebagai konsultan

Dari kedua kelompok tersebut, cukup jelas bahwa Supangat lebih berminat bekerja sebagai konsultan, baik itu untuk gerakan-gerakan masyarakat maupun karirnya secara pribadi. Di luar dari bertani, Supangat juga menjadi konsultan untuk Farghani Consulting, jasa konsultan yang berfokus di pembangunan.

Sebagai sosok yang melek dengan isu alam dan kesejahteraan masyarakat, ia kerap menjadi mediator untuk sebuah proyek pembangunan demi mencegah konflik dengan warga di satu wilayah dan merusak sumber daya alam mereka.

Selain menjadi konsultan, Supangat turut bekerja untuk sejumlah institusi muslim. Ia menjadi peternak ayam di peternakan ayam milik Yayasan R. Yatim Wiwin Muslimah dan menjadi pendiri Madrasah Diniyah Takmiliyah Al-Hikmah yang saat ini dijalani oleh satu ustad dan satu ustadzah.

Memanfaatkan pengalaman dan bakatnya sebagai konsultan, Supangat juga sudah terlibat dalam pendirian sejumlah lembaga kesejahteraan rakyat di Kulon Progo.

Selain Kelompok Sido Dadi dan Kelompok Tani Hutan, Supangat bergabung dengan Yayasan SATUNAMA tahun 2007-2009. Lalu, ia menjadi salah satu dewan pendiri Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM).

Kopi dan kapulaga hasil panen petani di Dusun Ngaliyan, Kulon Progo. Foto oleh Supangat

Pertemuan dengan Kaoem Telapak

Ketika masih aktif terlibat dengan Koperasi Wana Lestari Menoreh, Supangat bertemu dengan kawan-kawan Kaoem Telapak pada tahun 2012 ketika mereka berjumpa untuk kampanye pembalakan liar di Kulon Progo selama empat tahun.

Pada saat itu, Supangat merasa ada kecocokan dengan Kaoem Telapak dan memutuskan untuk bergabung. Ia bercerita, “Ada nilai-nilai Kaoem Telapak yang pas dengan diri saya, makanya saya mulai lebih fokus membantu kampanye itu.”

Seiring waktu berjalan, Supangat mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang membangun jiwa kelembagaannya sehingga ia sampai pada titik saat ini.

“Dengan Kaoem Telapak itu belajar diplomasi sama kawan-kawan, belajar caranya berkomunikasi dengan orang, dan belajar membangun komunitas. Dari sini, saya mulai bisa menjembatani orang-orang dari komunitas yang berbeda dan mengelola masalah, contohnya jadi mediator untuk Yayasan Yatim Wiwin Muslimah ini,” kisah Supangat.

“Intinya, jadi lebih percaya diri sekarang,” lanjutnya.

Membangun kesejahteraan rakyat yang berkelanjutan

Supangat menghadiri pembentukan Kaoem Telapak di Sarongge dan Kemping Raya tahun 2016. Ketika menghadiri kegiatan Kemping Raya 2025, ia terkejut melihat lebih banyaknya pemuda yang hadir dan bergerak untuk isu pelestarian alam dibanding sembilan tahun yang lalu.

Fenomena ini juga tercerminkan di kampung Supangat sendiri. Pasalnya, warga Dusun Ngaliyan saat ini bekerja sama dengan SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan dalam program budidaya jamur-jamuran seperti jamur tiram untuk konsumsi pribadi warga, yang saat ini diikuti oleh para pemuda di kampungnya.

Melalui program ini, anak-anak muda belajar mengelola jamur-jamur, membuat kemasan hasil panen jamur tersebut, kemudian memasarkannya ke pasar-pasar maupun perseorangan.

Melihat semangat para pemuda ini, Supangat sangat berharap kerja kerasnya hingga saat ini membuahkan nilai-nilai yang dapat ia wariskan kepada generasi muda. Ia juga ingin terus berkarya sambil menuntun anak-anak muda ini dalam perjuangan ekologi.

“Saya ingin mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda, bukan sekadar mewariskan program saja. Dengan begitu, terlepas dari programnya, anak-anak muda ini bisa menghayati nilai-nilai tersebut yang kemudian bisa mereka wariskan lagi,” ucap Supangat.

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Cookie Dasar

Cookie yang diperlukan mengaktifkan fungsionalitas inti. Situs web tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa cookie ini, dan hanya dapat dinonaktifkan dengan mengubah preferensi browser Anda

Cookie analitik membantu kami meningkatkan situs web kami dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi tentang penggunaannya

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.