‘Bertani tanpa mencangkul’ bukanlah kata-kata yang umum dilontarkan orang-orang, namun itulah gambaran yang sangat mencerminkan Supangat dalam perjalanan hidupnya merintis karir dan mendukung kesejahteraan ekonomi warga Dusun Ngaliyan, Kulon Progo.
Supangat adalah anggota Kaoem Telapak di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta yang kesehariannya bekerja dengan 25 petani dalam satu kelompok tani bernama Kelompok Sido Dadi. Mereka mengumpulkan hasil panen dan menitipkannya ke bakul keliling ataupun bakul lokal yang kemudian menjual hasil panen tersebut ke berbagai daerah di Kulon Progo.
Namun, ada hal-hal unik dari keseharian Supangat. Pertama, ia sendiri tidak turun ke lahan tani untuk mencangkul bersama para petani lainnya dan hanya terlibat di balik layar. Kedua, hasil panen mereka juga bukan satu atau dua jenis tumbuhan saja sepanjang tahun, melainkan beragam tumbuhan musiman yang berganti-ganti seperti kayu, pisang, cengkeh, kopi, dan kapulaga.
“Makanya saya menyebut diri saya ini ‘Petani yang tidak mencangkul.’ Saya lebih mengurus hasil pertanian dan manajemen keuangannya saja,” ucap Supangat.
Selain Kelompok Sido Dadi, Supangat juga mendirikan Kelompok Tani Hutan yang beranggotakan 21 orang. Sekali lagi, ia lebih aktif terlibat di belakang untuk membantu perencanaan dan operasional kelompok ini demi mendukung pelestarian hutan rakyat dan mata air Dusun Ngaliyan, terlebih karena daerah tersebut kerap menghadapi kekeringan.
Berkarir sebagai konsultan
Dari kedua kelompok tersebut, cukup jelas bahwa Supangat lebih berminat bekerja sebagai konsultan, baik itu untuk gerakan-gerakan masyarakat maupun karirnya secara pribadi. Di luar dari bertani, Supangat juga menjadi konsultan untuk Farghani Consulting, jasa konsultan yang berfokus di pembangunan.
Sebagai sosok yang melek dengan isu alam dan kesejahteraan masyarakat, ia kerap menjadi mediator untuk sebuah proyek pembangunan demi mencegah konflik dengan warga di satu wilayah dan merusak sumber daya alam mereka.
Selain menjadi konsultan, Supangat turut bekerja untuk sejumlah institusi muslim. Ia menjadi peternak ayam di peternakan ayam milik Yayasan R. Yatim Wiwin Muslimah dan menjadi pendiri Madrasah Diniyah Takmiliyah Al-Hikmah yang saat ini dijalani oleh satu ustad dan satu ustadzah.
Memanfaatkan pengalaman dan bakatnya sebagai konsultan, Supangat juga sudah terlibat dalam pendirian sejumlah lembaga kesejahteraan rakyat di Kulon Progo.
Selain Kelompok Sido Dadi dan Kelompok Tani Hutan, Supangat bergabung dengan Yayasan SATUNAMA tahun 2007-2009. Lalu, ia menjadi salah satu dewan pendiri Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM).