Rasa cinta terhadap alam yang tertanam pada diri sendiri akan selalu bertahan seumur hidup, sekalipun hidup membawa seseorang ke arah tujuan yang bercabang dan beragam. Hal ini dirasakan oleh Ridzki R. Sigit, anggota Kaoem Telapak di Bogor, Jawa Barat.
Juga disapa Ridzki, ia merupakan salah satu sosok yang pertama kali membangun Mongabay Indonesia, sebuah media pemberitaan isu-isu konservasi alam yang berdiri tahun 2012 sebagai cabang internasional pertama milik Mongabay.com.
Di tengah karirnya dengan Mongabay selama 13 tahun lebih ini, ia sekarang menjabat sebagai Direktur Program dan mengorganisasikan divisi yang berisikan 10 orang, termasuk 60 jurnalis kontributor yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia dari Aceh sampai Papua.
“Bisa saya bilang, kami itu dulu seperti ‘kelinci percobaan’ ya. Belum banyak situs berita khusus tentang konservasi alam pada saat itu, jadi kami berusaha menaikkan minat dan kesadaran orang-orang dan media-media tentang isu alam,” kisah Ridzki tentang sejarahnya dengan Mongabay.
Selain di Mongabay, Ridzki juga menjadi pengajar di bidang Ilmu Komunikasi sejak 2015. Minat dan pengalaman hidupnya dengan isu alam ia praktikkan selama mengajarkan para mahasiswa dan membuat jurnal-jurnal penelitian.
Ridzki juga terlibat di sejumlah lembaga lainnya. Ia merupakan pendiri Yayasan Rekam Jejak Alam Nusantara (Rekam Nusantara Foundation) dan ketua Yayasan Non-Timber Forest Products (NTFP) Indonesia.
Dan baru saja di tahun 2025 ini, Ridzki mendirikan Yayasan Aksara dan menjadi ketua untuk organisasi ini yang mendorong partisipasi masyarakat di kawasan konservasi alam, khususnya di kawasan penyangga Taman Nasional Halimun Salak, Jawa Barat-Banten.
Di luar dari profesi-profesi tersebut, Ridzki memiliki beragam hobi. Ia gemar jalan-jalan ke berbagai daerah, fotografi, dan membaca. Kemudian, ia adalah seorang penyelam bersertifikat yang gemar menyelam sambil mengembangkan minatnya dalam fotografi bawah laut.
Terkait profesi dan hobinya, Ridzki berkata, “Semua yang saya kerjakan selama bertahun-tahun, baik itu secara profesional maupun hiburan, selalu berkaitan dengan alam.”
Akar dari kecintaan terhadap alam
Rasa cinta dan penghargaan terhadap alam yang membentuk semua profesi dan hobi Ridzki yang ia jalani sampai saat ini berawal ketika bergabung dengan kelompok pecinta alam Lawalata IPB saat ia berkuliah. Itu pula yang mendasarinya hasratnya ketika bergabung dengan Kaoem Telapak pada tahun 1998, yang saat itu masih bernama Perkumpulan Telapak.
Seiring waktu berlalu, Ridzki semakin terlibat dengan Telapak. Ia sempat menjabat sebagai Direktur Eksekutif Telapak periode 2004-2006. Kemudian, ia dan para anggota Telapak lainnya mulai mengembangkan Gekko Studio, badan otonom di bawah Telapak yang fokus pada pendokumentasian alam, lingkungan dan budaya pada tahun 2006.
Aspek media di Telapak ini kemudian ia kembangkan dengan merintis berdirinya jejaring Kantor Berita Telapak yang berada di beberapa wilayah, seperti Bogor, Riau, Bengkulu, dan beberapa jaringan kota lainnya.
“Saat kami membuat situs tahun 2008, belum ada teknologi video call yang umum dipakai masyarakat seperti Zoom dan media sosial pun belum terlalu menjamur di kalangan masyarakat umum. Karena itu, kami merasa ada kebutuhan untuk membangun semua ini,” ia bercerita.