Kisah Palu TV dan Salam Kaoem
Pada tahun 2009, saat kunjungan Kaoem Telapak ke Palu, Balgis terlibat dalam pembuatan sebuah stasiun televisi lokal bernama Palu TV sebagai bagian dari program Asosiasi Televisi Lokal Kerakyatan (ASTEKI) untuk mendorong pemberitaan dari masyarakat lokal untuk masyarakat lokal.
Kemudian, karena Palu TV juga merupakan salah satu agenda Kaoem Telapak pada masa itu, Balgis kerap berinteraksi dengan anggota-anggota Kaoem Telapak lainnya dan mendapatkan banyak edukasi maupun informasi yang mengasah dirinya.
“Diskusi-diskusi dengan para anggota waktu itu memberiku banyak pengetahuan soal ilmu jurnalistik. Terus, karena Kaoem Telapak lebih fokus pada isu-isu lingkungan, aku jadi dapat persepsi yang lebih dalam,” ucap Balgis.
“Ancaman kerusakan alam, pemanasan global, kesejahteraan dan pengakuan Masyarakat Adat; banyak yang aku dapatkan dari kawan-kawan anggota. Ujungnya, jadi menambah jaringan sosial juga,” lanjutnya.
Akan tetapi, keterlibatan Balgis dengan Palu TV tidak bertahan lama karena masalah pribadi yang saat itu ia hadapi. Hal ini menyebabkan hubungan antara dirinya dengan Kaoem Telapak perlahan meregang.
Sementara itu, proyek Palu TV pun perlahan tidak lagi berlanjut atas keputusan semua pihak yang terlibat.
Namun, kisah Balgis dengan Kaoem Telapak tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah beberapa tahun berlalu, Balgis mendapat kesempatan untuk menciptakan serial video dokumentasi Salam Kaoem yang kemudian tayang di media sosial dan kanal Youtube Kaoem Telapak.
Balgis berkata, “Aku senang bisa kembali terlibat dan berkarya untuk Kaoem Telapak setelah sekian lama, bisa mengangkat banyak topik kayak sosok-sosok di Palu maupun Sulawesi Tengah, pengaruh krisis iklim bagi daerah kami, dan Kopi Kamanuru khas Sulawesi Tengah.”
Membumikan bahasa-bahasa perjuangan
Balgis memang merasa ia tidak fokus sebagai advokat, namun ia bahagia atas kontribusinya dalam media dan penyiaran berita untuk menyoroti para pejuang keadilan ekologi di Palu maupun Sulawesi Tengah.
Dalam kinerjanya selama puluhan tahun, Balgis selalu menghayati satu nilai penting, yaitu ‘Membumikan bahasa-bahasa perjuangan.’
Ia menjelaskan, “Bila kita ingin memperjuangkan kelestarian alam dan kesejahteraan Masyarakat Adat, maka kita harus membuat masyarakat umum itu memahami dan menghayati perjuangan kawan-kawan; buat mereka peduli dengan apa yang kita perjuangkan.”
“Perjuangan kita akan kurang efektif bila kita memakai bahasa-bahasa yang terlalu rumit dan hanya dipahami oleh sesama aktivis atau akademisi saja. Masyarakat umum bisa jadi kurang peduli dengan apa yang kita perjuangkan,” lanjutnya.
Oleh karena itu, dengan menjiwai nilai-nilai jurnalistik dalam kegiatannya sebagai penyiar radio atau pembuat video dokumentasi Salam Kaoem, Balgis tidak akan berhenti menyiarkan suara-suara pejuang ekologi dengan cara yang telah ia lakukan selama ini.
“Dengan membumikan bahasa-bahasa perjuangan, aku berharap usaha ini juga bisa memanusiakan manusia, baik itu para pendengar radio maupun kawan-kawan aktivis,” Balgis berharap.