Agustus 28, 2026 3:24 AM | kaoem@kaoemtelapak.org

Berjuang untuk keadilan ekologi

kaoem@kaoemtelapak.org

Agustus 28, 2026 3:24 AM

Kisah Nasihin Melindungi Ekosistem Sungai Way Seputih Bersama YKPS Tim 10 Way Seputih

Niat dan tekad adalah modal terpenting bagi siapapun yang ingin menciptakan sebuah perubahan positif untuk lingkungan. Kedua aspek itulah yang menggerakkan jiwa M. Nasihin, anggota Kaoem Telapak di Lampung, untuk terlibat dalam gerakan pemulihan dan perlindungan Sungai Way Seputih.

Lahir di Kampung Pekandangan, Kecamatan Pubian, Kabupaten Lampung Tengah, keseharian Nasihin saat ini adalah menjadi Petani serta Kepala Dusun di tanah kelahirannya.

Ia juga merupakan Ketua Yayasan Komunitas Peduli Sungai (YKPS) Tim 10 Way Seputih, sebuah organisasi lokal yang berperan penting dalam pemulihan dan perlindungan Sungai Way Seputih, salah satu sungai terpanjang di kawasan Lampung sepanjang 190 km.

Pada 11 Oktober 2025, Nasihin terlibat dalam kegiatan perayaan hari lahir Tim 10 ke-10 berjudul “Sinergi Lintas Para Pihak untuk Penguatan Ekosistem Air dan Hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Seputih.”

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari Peluncuran Deklarasi Perlindungan DAS Way Seputih tanggal 10 Oktober 2024 yang dihadiri perwakilan Kaoem Telapak, tentang komitmen masyarakat, pemerintah, organisasi non-pemerintah, institusi pendidikan, gerakan pramuka, dan pelaku usaha untuk menjaga dan melindungi Sungai Way Seputih.

Di hari lahir YKPS Tim 10 Way Seputih kemarin, warga dan beragam pemangku kepentingan di Kampung Pekandangan serta daerah lainnya mengadakan kegiatan-kegiatan seperti penebaran 10.000 bibit ikan, penanaman 5.000 benih pohon, dan pemulihan Sungai Way Penandingan di Margajaya, Lampung Tengah, serta pelantikan anggota-anggota baru Tim 10.

Terkait anggota-anggota Tim 10, Nasihin berkata, “Saat ini anggota kami ada 37 pemuda, dua di antaranya perempuan.”

“Namanya mungkin Tim 10, tapi anggota kami sudah lama melebihi 10 anggota dan hingga kini terus bertambah. Bicara soal sejarah namanya itu panjang sekali, mengingatkan saya pada Sungai Way Seputih yang dulu kondisinya jauh berbeda dibanding sekarang,” lanjutnya.

Awal pembentukan YKPS Tim 10 Way Seputih

Sebelum pembentukan YKPS Tim 10, Sungai Way Seputih di wilayah Kampung Pekandangan menghadapi masalah lingkungan yang serius akibat perilaku masyarakat lokal sendiri maupun pihak-pihak luar lainnya.

Nasihin bercerita bahwa pada tahun 2010, pembalakan liar kerap terjadi di sekitar sungai sehingga menyebabkan longsor, diikuti dengan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan melalui penyetruman dan meracuni ikan-kan di Way Seputih seperti Tawes, Nila, Jelawat, dan Mata Merah, hingga hampir menyebabkan kepunahan populasi ikan di sana.

Terlebih, masyarakat Kampung Pekandangan sendiri kerap mencemari Sungai Way Seputih dengan membuang sampah sembarangan dan membuang air kecil maupun besar di sungai.

Nasihin menambahkan, “Di tahun 2012, Kampung Pekandangan dapat predikat ‘WC terpanjang sedunia.’ Ini jelas tidak mengenakkan bagi warga dan menunjukkan adanya masalah serius.”

Saat itu, Nasihin sekolah di SMA dan melanjutkan kuliah di Bandar Lampung. Dari tahun 2013 – 2015, ia juga sempat tinggal di kantor Kaoem Telapak Daerah Lampung (kini menjadi kantor media Metro) dan bertukar pikiran dengan sejumlah anggota Kaoem Telapak lainnya yang berdomisili di Lampung.

Usai masa kuliahnya, Nasihin kembali ke Kampung Pekandangan tahun 2015 dan berdiskusi dengan anggota Kaoem Telapak, Jakariya, untuk mengumpulkan setidaknya 10 pemuda demi membentuk organisasi yang dapat memulihkan Sungai Way Seputih.

Nasihin bercerita, “Kami ingin mengumpulkan 10 orang pemuda saja. Tidak kurang, tidak lebih. Yang penting, mereka punya niat dan tekad yang sama dengan kami untuk membuat perubahan positif bagi Sungai Way Seputih.”

“Setelah berhasil mengumpulkan anggotanya, kami mendirikan organisasi ini di tanggal 10 Oktober 2015. Itulah asal mula nama YKPS Tim 10 Way Seputih – berdiri di tanggal 10 bulan 10, dan dimulai oleh 10 orang.”

Gula semut aren, salah satu produk khas Kampung Pekandangan yang bahan bakunya berasal dari pohon aren hasil penghijauan di area pinggiran Sungai Way Seputih dan pemukiman warga. Foto oleh M. Nasihin

Usaha Tim 10 memulihkan Sungai Way Seputih

Semenjak berdirinya YKPS Tim 10 Way Seputih, Nasihin dan kawan-kawan pemuda mulai melakukan kegiatan setiap dua bulan sekali, seperti mengumpulkan bibit-bibit ikan untuk mereka tebarkan di Sungai Way Seputih dan menanam benih-benih pepohonan sepanjang daerah sungai yang terancam longsor dan di wilayah pemukiman warga yang mereka anggap perlu penghijauan.

Benih-benih pohon ini mereka peroleh dari mitra-mitra seperti Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWS MS), lembaga BUMN Perum Jasa Tirta 2, dan Bappeda, dan merupakan pohon-pohon dengan hasil panen yang bisa diolah warga Kampung Pekandangan secara berkelanjutan untuk mendorong perekonomian warga.

Nasihin menjelaskan, “Kami menanam benih tumbuhan seperti pohon aren, bambu jenis rebung, pohon alpukat, petai, dan jengkol.”

“Bicara soal aren, Pekandangan itu terkenal sebagai penghasil gula aren, sehingga pohon aren ini menghasilkan bahan baku untuk produk khas kami,” lanjutnya.

Tim 10 juga kerap mengadakan pertemuan bulanan antar anggota untuk mempererat hubungan sosial dan merencanakan agenda-agenda lain, termasuk tentang cara pendekatan mereka untuk meningkatkan kepedulian warga terhadap Sungai Way Seputih seperti tidak membuang sampah dan tidak buang air kecil atau besar di sungai.

Tahun 2018, ketika anggota Kaoem Telapak Ade Ma’mun menjabat sebagai Kepala Kampung, Nasihin dan warga lainnya mendorong Ade untuk membuat anggaran dana desa agar setiap rumah yang belum punya toilet dapat memiliki toilet.

Usaha mereka berhasil: Sejak saat itu, tiap rumah di Kampung Pekandangan sudah memiliki toilet. Efeknya, jumlah kasus warga buang air di sungai pun berkurang drastis hingga saat ini.

Tidak lupa juga, YKPS Tim 10 Way Seputih menghimbau warga Kampung Pekandangan untuk tidak lagi menebang pohon sembarangan ataupun memancing ikan dengan cara yang tidak ramah lingkungan demi kelestarian alam di sekitar mereka.

“Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga sungai kita?” ucap Nasihin.

Menghadapi kasus perusakan Sungai Way Seputih

Tim 10 selalu melakukan advokasi kepada warga Kampung Pekandangan untuk lebih melindungi Sungai Way Seputih. Akan tetapi, hal yang sama belum diterapkan oleh pihak-pihak luar lainnya.

Bulan Agustus 2025 kemarin, YKPS Tim 10 Way Seputih mendapati empat orang warga dari kampung sebelah melakukan penyetruman ikan. Mereka berhasil menangkap para pelaku dan menyita alat-alat penyetruman tersebut, lalu meminta para pelaku untuk menandatangani surat perjanjian agar tidak mengulanginya lagi dan menebarkan bibit ikan baru.

Merespons kasus tersebut, Nasihin berkata, “Mereka patungan uang untuk membeli bibit ikan yang telah kami sepakati, kemudian kami tebar bibit-bibit tersebut bersama.”

“Saya serahkan proses pemulihan populasi itu pada mereka. Yang penting, apa yang mereka sudah ambil harus mereka kembalikan,” lanjutnya.

Kejadian ini menyadarkan Nasihin bahwa ia dan kawan-kawan YKPS Tim 10 Way Seputih juga perlu mengingatkan kampung-kampung lain untuk ikut serta menjaga kelestarian Sungai Way Seputih.

Ia berkata, “Kami berusaha memberi himbauan kepada kampung-kampung lain agar mereka bisa membuat aturan seperti di Kampung Pekandangan, jadi kita semua menjaga Way Seputih bersama-sama.”

Belajar dan berjuang dari tingkat akar rumput

Seiring Nasihin terlahir dan tumbuh di Kampung Pekandangan, ia semakin menyadari bahwa kondisi lingkungan di sekitarnya semakin tidak membaik. Dari situlah muncul panggilan jiwa yang menggerakkannya untuk membuat perubahan.

Bermodalkan niat dan tekad, Nasihin memulai langkahnya untuk memulihkan Sungai Way Seputih dengan hal-hal terkecil seperti tidak membuang sampah ke sungai dan mengingatkan warga lain untuk melakukan hal yang sama sepertinya.

Dari situ, Nasihin mencari para pemuda yang mau bergerak untuk memulihkan Sungai Way Seputih bersama-sama. Begitu YKPS Tim 10 Way Seputih terbentuk, mereka pun menyebarkan semangat yang sama untuk menggerakkan warga demi tujuan yang sama.

Perjuangan warga Kampung Pekandangan untuk memulihkan Sungai Way Seputih membutuhkan usaha dan tenaga yang besar, serta waktu yang lama. Oleh karena itu, Nasihin berharap usaha konservasi lingkungan mereka dapat didengar oleh banyak orang demi menggerakkan masyarakat lainnya juga untuk melindungi lingkungan.

Nasihin bercerita, “Kami dari YKPS Tim 10 Way Seputih maupun warga Pekandangan bukanlah sosok-sosok PNS, akademisi, ataupun pejabat. Kami adalah masyarakat akar rumput yang belajar hal baru dan mencari bantuan dari pihak-pihak luar karena kami tahu bahwa itulah yang kami perlukan untuk mencapai pemulihan Sungai Way Seputih.”

“Oleh karena itu, semoga saya bisa mengajak kawan-kawan lain untuk ikut berjuang bersama demi menyelamatkan lingkungan kita, baik itu untuk menjaga sesama manusia maupun flora dan fauna lainnya,” pesan Nasihin.

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Cookie Dasar

Cookie yang diperlukan mengaktifkan fungsionalitas inti. Situs web tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa cookie ini, dan hanya dapat dinonaktifkan dengan mengubah preferensi browser Anda

Cookie analitik membantu kami meningkatkan situs web kami dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi tentang penggunaannya

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.