Sementara itu, budidaya sorgum di wilayah Bogor masih berlangsung dengan penyebaran yang perlahan namun pasti. Untuk itulah, Friska percaya bahwa pengenalan dan pelatihan budidaya sorgum kepada para petani sangat penting dalam meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat terhadap sorgum.
Terlebih, Friska menjelaskan berbagai kelebihan dan keuntungan sorgum bagi petani.
“Benih sorgum dapat tumbuh di lahan pertanian dalam kondisi apapun, baik itu musim kemarau atau hujan. Dibandingkan padi yang lebih rentan mengalami gagal panen, sorgum jauh lebih tangguh,” ia menjelaskan.
Kemudian, sorgum juga sehat dikonsumsi masyarakat sehari-hari dan berpotensi jauh lebih sehat dibanding beras. Karena tinggi akan serat tidak larut air dan memiliki lebih sedikit kandungan pati di dalamnya, sorgum menjadi solusi asupan karbohidrat yang lebih sehat bagi para pengidap diabetes.
“Setelah kami olah, sorgum ini bisa kita masak seperti memasak nasi. Kami sudah bikin nasi tumpeng maupun nasi liwet dengan sorgum,” lanjutnya.
Sementara itu, tepung sorgum juga memiliki manfaat yang serupa berkat kandungannya yang tidak mengandung gluten, sehingga tepung ini lebih menyehatkan dibanding tepung terigu.
Kawan-kawan koperasi mempromosikan tepung sorgum dengan membuat kue-kue seperti bolu, brownis, dan kukis sebagai camilan yang sehat.
Makna budidaya sorgum
Koperasi K-GNBR telah melakukan pengenalan sorgum sejak awal 2020-an kepada masyarakat awam dan para petani sebagai bagian dari strategi besar ketahanan pangan nasional. Di tengah perjalanan ini, mereka menyadari adanya beberapa tantangan yang harus mereka hadapi dalam jangka panjang.
Salah satu kendala para petani dalam menjual sorgum ke pasar adalah harganya yang saat ini cukup mahal. Hal ini berkaitan dengan jumlah produksi dan penyebaran sorgum yang juga belum meluas di Indonesia.
Oleh karena itu, Friska percaya bahwa pelatihan Mandiri Sahabat Desa ini akan sangat membantu mendorong popularitas sorgum di kalangan para petani, sehingga dapat meningkatkan produksi sorgum dan menekan harganya agar dapat bersaing dengan karbohidrat lainnya seperti beras.
Terlebih, Friska merasa bahwa budidaya sorgum memiliki makna yang dalam bagi para petani.
Ia bercerita, “Semua ini tidak terlepas dari perubahan iklim. Gagal panen di Indonesia mendorong impor gandum dan beras, yang berarti merugikan para petani. Untuk itu, lahan-lahan yang terlantar karena kekeringan ini bisa kita pakai untuk budidaya sorgum.”
“Dengan begitu, para petani bisa lebih mandiri dan sejahtera,” lanjutnya.
Kemudian, dengan kandungan sorgum yang lebih sehat dibanding beras maupun tepung terigu, Friska berharap hal ini dapat mendorong minat masyarakat untuk mengonsumsi sorgum lebih rutin dan berimbas pada dorongan para petani untuk lebih banyak menanam sorgum.
“Oleh karena itu, mari kita konsumsi sorgum!” Friska berpesan.
*Referensi: https://www.youtube.com/watch?v=vWXBA2Tsyt4