Gerakan ini menolak untuk sekadar menjadi “tukang bersih-bersih”. Di ranah advokasi, Harkuk bersama KPC gigih menekan pemerintah daerah agar mengambil tanggung jawab penuh atas tata kelola sampah. Ia mendorong terciptanya kebijakan nyata, seperti pembentukan satuan tugas kebersihan sungai yang digaji secara layak, agar pemerintah tidak lagi saling lempar tanggung jawab dengan dalih “banjir dan sampah kiriman”.
Strategi advokasi KPC pun tak jarang harus menyentil birokrasi yang kaku dengan cara-cara unik. “Dulu itu kita komplain ke Dinas Kebersihan. Mereka ngomongnya, ‘Kalau sampah di darat itu memang kita yang angkut, tapi kalau di sungai bukan kita.’ Makanya, kita ambil yang dari sungai, kita taruh di darat, biar diangkut oleh mereka,” kisahnya.
Untuk membangun kesadaran publik, Harkuk juga menggunakan taktik kampanye yang tak kenal lelah, mulai dari menyebarkan pesan edukasi rutin melalui SMS blast di era 2000-an, hingga menggelar perlombaan kebersihan antar-kelurahan yang dilalui Ciliwung.
Visi Besar: Dari Hulu ke Laut Lepas
Kini, dedikasi Harkuk terus meluas. Ia melebarkan sayap gerakannya ke Sungai Cisadane dan mulai menggaungkan kampanye Marine Debris (pencegahan sampah laut). Ia meyakini sebuah filosofi sederhana: kesehatan lautan sangat bergantung pada apa yang terjadi di hulu sungai.
“Sekarang apapun yang terjadi di laut itu berasal dari hulu. Lewat aliran sungai dan juga hanyut dari jalanan, akhirnya numpuk di laut. Padahal kita masih butuh protein dari hewan-hewan laut,” jelasnya. Membiarkan sampah di darat sama halnya dengan mewariskan racun mikroplastik ke lautan.
Untuk memastikan gerakannya berkelanjutan, Harkuk tidak hanya berfokus pada ekologi, tetapi juga pada perekonomian warga (livelihood). Ia mendorong skema yang mengawinkan kesejahteraan dan pelestarian alam, salah satunya dengan mengintegrasikan pengelolaan tambak perikanan pesisir dengan penanaman pohon mangrove untuk mencegah abrasi.
Bagi Harkuk, menjaga kelestarian hutan, sungai, dan laut bukan lagi sekadar program kerja, melainkan wujud tanggung jawab spiritual. Ia memandang bahwa setiap ajaran agama pada dasarnya menempatkan manusia sebagai penjaga bumi, di mana kelalaian dalam merawat alam sama halnya dengan merusak harmoni kehidupan ciptaan Tuhan. “Menyelamatkan bumi itu menyelamatkan masyarakat juga. Aturan pelestarian yang telah ditetapkan entah dari agama maupun pemerintah, itu sebagian dari ibadah,” tegasnya. Dengan kata lain, membersihkan sampah dari sungai atau menanam mangrove di pesisir adalah wujud nyata dari keimanan yang membumi. Melalui Komunitas Peduli Ciliwung, ia membuktikan bahwa ibadah dan perubahan besar selalu bisa dimulai dari langkah-langkah kecil relawan yang menolak untuk diam.