Agustus 28, 2026 1:03 AM | kaoem@kaoemtelapak.org

Berjuang untuk keadilan ekologi

kaoem@kaoemtelapak.org

Agustus 28, 2026 1:03 AM

Hari Yanto, Aksi Peduli Ciliwung Memutus Rantai Sampah Laut

Tumpukan sampah yang menyumbat aliran sungai tentu menjadi pemandangan yang meresahkan bagi siapa saja, tak terkecuali bagi Hari Yanto. Namun, alih-alih berhenti pada rasa prihatin, pria asal Jawa Timur yang akrab disapa Harkuk ini memilih mengubah keresahannya menjadi aksi nyata. Dari Bogor, ia turun langsung ke lapangan dan memotori sebuah gerakan akar rumput yang panjang dan berliku demi menyelamatkan ekosistem sungai.

Keterlibatan Harkuk bermula pada tahun 2004 saat ia mendapat mandat dari organisasi Kaoem Telapak. Kala itu, ia ditantang untuk mengawal dan menyuarakan kampanye pelestarian Sungai Ciliwung. Seiring berjalannya waktu dan intensitasnya melihat langsung kondisi sungai di lapangan, tugas formal tersebut perlahan luruh dan tumbuh menjadi panggilan jiwa. Berbekal kepedulian yang tulus dan semangat tanpa pamrih, Harkuk akhirnya menginisiasi pembentukan Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) pada tahun 2008. Lewat wadah kerelawanan ini, ia berhasil merajut aksi nyata dari masyarakat di sepanjang aliran sungai, merentang dari hulunya di Puncak, Bogor, hingga bermuara di pesisir Jakarta. “Kan saya komitmen, saya ndak peduli ada duitnya atau ndak. Saya ya tetep jalan aja,” kenangnya tentang masa awal pergerakan tersebut.

Melawan Lilitan “Anakonda Ciliwung”

Perjuangan merawat urat nadi lingkungan ini bukanlah tanpa rintangan. Jika aktivis lain mungkin berhadapan dengan birokrasi, Harkuk dan relawan KPC harus berhadapan langsung dengan apa yang mereka sebut sebagai “Anakonda Ciliwung”.

Ini bukanlah hewan buas, melainkan wujud nyata dari krisis ekologi yang ekstrem. “Anakonda Ciliwung” adalah gulungan raksasa sampah plastik yang terombang-ambing arus hingga saling melilit kuat di dasar dan bantaran sungai Ciliwung. Lilitan sampah ini begitu tebal dan keras hingga pisau maupun golok tajam tak lagi mempan untuk memotongnya.

“Sampah yang ngumpul kena arus sungai itu melilit sampai panjang. Yang udah lilit-lilitan itu dipotongnya aja susah. Pakai pisau aja nggak mempan. Terpaksa pakai cara zaman dulu, batu ketemu batu, digetokin,” cerita Harkuk menceritakan kerasnya proses evakuasi di lapangan. Anakonda ini merupakan bukti bahwa sampah darat yang dibiarkan menumpuk di sungai akan menciptakan bencana ekologi yang sulit ditangani manusia.

Aksi Akar Rumput dan Advokasi Kebijakan

Harkuk sadar bahwa membersihkan sampah satu per satu tidak akan menyelesaikan akar masalah. Oleh karena itu, gerakan KPC dirancang secara terintegrasi melalui empat pilar aksi utama: pemungutan sampah, penyemaian bibit dari biji pohon yang jatuh di bantaran sungai, penanaman kembali, dan patroli sungai rutin.

Center - Hari Yanto

Aksi Komunitas Peduli Sungai Ciliwung. (Doc: Kaoem Telapak)

Gerakan ini menolak untuk sekadar menjadi “tukang bersih-bersih”. Di ranah advokasi, Harkuk bersama KPC gigih menekan pemerintah daerah agar mengambil tanggung jawab penuh atas tata kelola sampah. Ia mendorong terciptanya kebijakan nyata, seperti pembentukan satuan tugas kebersihan sungai yang digaji secara layak, agar pemerintah tidak lagi saling lempar tanggung jawab dengan dalih “banjir dan sampah kiriman”.

Strategi advokasi KPC pun tak jarang harus menyentil birokrasi yang kaku dengan cara-cara unik. “Dulu itu kita komplain ke Dinas Kebersihan. Mereka ngomongnya, ‘Kalau sampah di darat itu memang kita yang angkut, tapi kalau di sungai bukan kita.’ Makanya, kita ambil yang dari sungai, kita taruh di darat, biar diangkut oleh mereka,” kisahnya.

Untuk membangun kesadaran publik, Harkuk juga menggunakan taktik kampanye yang tak kenal lelah, mulai dari menyebarkan pesan edukasi rutin melalui SMS blast di era 2000-an, hingga menggelar perlombaan kebersihan antar-kelurahan yang dilalui Ciliwung.

Visi Besar: Dari Hulu ke Laut Lepas

Kini, dedikasi Harkuk terus meluas. Ia melebarkan sayap gerakannya ke Sungai Cisadane dan mulai menggaungkan kampanye Marine Debris (pencegahan sampah laut). Ia meyakini sebuah filosofi sederhana: kesehatan lautan sangat bergantung pada apa yang terjadi di hulu sungai.

“Sekarang apapun yang terjadi di laut itu berasal dari hulu. Lewat aliran sungai dan juga hanyut dari jalanan, akhirnya numpuk di laut. Padahal kita masih butuh protein dari hewan-hewan laut,” jelasnya. Membiarkan sampah di darat sama halnya dengan mewariskan racun mikroplastik ke lautan.

Untuk memastikan gerakannya berkelanjutan, Harkuk tidak hanya berfokus pada ekologi, tetapi juga pada perekonomian warga (livelihood). Ia mendorong skema yang mengawinkan kesejahteraan dan pelestarian alam, salah satunya dengan mengintegrasikan pengelolaan tambak perikanan pesisir dengan penanaman pohon mangrove untuk mencegah abrasi.

Bagi Harkuk, menjaga kelestarian hutan, sungai, dan laut bukan lagi sekadar program kerja, melainkan wujud tanggung jawab spiritual. Ia memandang bahwa setiap ajaran agama pada dasarnya menempatkan manusia sebagai penjaga bumi, di mana kelalaian dalam merawat alam sama halnya dengan merusak harmoni kehidupan ciptaan Tuhan. “Menyelamatkan bumi itu menyelamatkan masyarakat juga. Aturan pelestarian yang telah ditetapkan entah dari agama maupun pemerintah, itu sebagian dari ibadah,” tegasnya. Dengan kata lain, membersihkan sampah dari sungai atau menanam mangrove di pesisir adalah wujud nyata dari keimanan yang membumi. Melalui Komunitas Peduli Ciliwung, ia membuktikan bahwa ibadah dan perubahan besar selalu bisa dimulai dari langkah-langkah kecil relawan yang menolak untuk diam.

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Cookie Dasar

Cookie yang diperlukan mengaktifkan fungsionalitas inti. Situs web tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa cookie ini, dan hanya dapat dinonaktifkan dengan mengubah preferensi browser Anda

Cookie analitik membantu kami meningkatkan situs web kami dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi tentang penggunaannya

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.