Agustus 28, 2026 3:25 AM | kaoem@kaoemtelapak.org

Berjuang untuk keadilan ekologi

kaoem@kaoemtelapak.org

Agustus 28, 2026 3:25 AM

Gerai Nusantara: Wadah yang mempertemukan Masyarakat Adat dan Urban lewat Kehangatan Kopi dan Kerajinan Tangan Masyarakat Adat

Kreativitas dan ketekunan berwirausaha dapat menjadi jembatan yang kuat untuk menyuarakan sebuah gerakan sosial kepada khalayak luas. Nilai inilah yang dipegang teguh oleh Rina Agustine, atau yang akrab disapa Kak Rina, anggota Kaoem Telapak yang berasal dari Kota Bogor, Jawa Barat.

Insting wirausaha sosial Kak Rina telah ditempa sejak lama. Pada periode 2007 hingga 2009, ia dimandatkan untuk menjalankan unit usaha PT Poros Nusantara Utama (PNU). Di sana, ia memfasilitasi usaha masyarakat akar rumput, mulai dari produksi selai nanas warga Kampung Tapos, pengolahan daun kumis kucing sebagai bahan baku herbal dari Kampung Ciwaluh, hingga turut mendukung pengembangan Kedai Telapak pada masa itu.

Pengalaman panjang membina ekonomi kerakyatan tersebut mematangkan langkah Kak Rina ketika ia mulai bergabung dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) pada tahun 2015. Setahun kemudian, pada 2016, ia mendapat mandat mengelola badan usaha milik AMAN bernama Gerai Nusantara (GENUS). Memasuki akhir tahun 2023, GENUS memperbaharui brand-nya menjadi GENUS Coffee & Boutique bergaya kekinian, menjadikannya sebuah etalase yang hangat dan estetik bagi produk-produk karya Masyarakat Adat.

Awal Pengembangan Gerai Nusantara (GENUS)

Kehadiran GENUS pada mulanya berawal dari sebuah proyek di tahun 2016. Melihat potensi besar dari inisiatif tersebut, Kak Rina dan timnya dimandatkan untuk memastikan keberlanjutannya secara mandiri meskipun masa pendanaan proyek telah usai. Dan kemudian difokuskan pada tiga unit usaha utama: Kafe, Craft (kerajinan), dan Roastery.

Kak Rina memiliki visi yang sangat jelas untuk GENUS, yakni menghadirkan karya-karya Masyarakat Adat ke tengah dinamika gaya hidup masyarakat urban yang bergerak cepat.

“Target di awal adalah untuk mengenalkan produk-produk Masyarakat Adat ke masyarakat urban. Jadi dari Masyarakat Adat dari kampung ke urban,” kenang Kak Rina mengenai tujuan berdirinya kedai tersebut.

Konsep boutique coffee kekinian pun dipilih secara strategis. Kafe ini dirancang bukan sekadar sebagai tempat singgah, melainkan ruang belajar yang ramah. Kehangatan kopi, dipadukan dengan kecantikan kerajinan tangan, menjadi media cerita yang elegan tentang keberagaman budaya dan filosofi Masyarakat Adat, tanpa harus terasa seperti sebuah kampanye formal.

Usaha GENUS Menghidupi Kemandirian Masyarakat Adat

Sebagai badan usaha milik AMAN, GENUS memiliki nyawa yang berasal langsung dari komunitas Masyarakat Adat itu sendiri. Seluruh bahan baku di GENUS wajib didapatkan dari Kelompok Usaha Masyarakat Adat (KUMA) dan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA). Mulai dari biji kopi, tenun, hingga produk anyaman, semuanya dipasok oleh anggota AMAN dari berbagai wilayah di Nusantara.

Perjalanan GENUS tentu tidak luput dari badai. Ketika pandemi COVID-19 melanda dan aturan jarak sosial diterapkan, konsep awal dari kafe GENUS di kawasan Ruko Sudirman Bogor terpaksa ditutup. Namun, Kak Rina dan timnya beradaptasi dengan keluwesan yang luar biasa. Berbekal modal dari organisasi AMAN dan pinjaman dari kelembagaan finansial, Credit Union (CU) RANDU, mereka memindahkan GENUS ke area terbuka (outdoor) yang rindang di kawasan Bubulak pada akhir tahun 2022.

Demi bertahan di tengah ketatnya persaingan iklim bisnis kafe di Bogor, GENUS lincah merespons tren kaum urban. Mereka mulai menyediakan ruang rapat (meeting room), melayani intimate wedding, hingga memfasilitasi gelaran silent concert.

“Kalau orang lain mungkin lihat (sebagai) achievement, tapi kalau kami melihatnya (sebagai) strategi. Karena (fokusnya adalah) gimana bertahan untuk operasional (tetap berjalan) dari gempuran pesaing-pesaing yang menjamur,” tegas Kak Rina.

Foto suasana GENUS Coffee & Boutique di kawasan Bubulak (Doc: Kaoem Telapak), swafoto Kak Rina di GENUS (Doc: Rina), dan foto Kak Rina ketika wawancara bersama Tim Koms Kaoem Telapak di Rumah AMAN (Doc: Kaoem Telapak).

Foto suasana GENUS Coffee & Boutique di kawasan Bubulak (Doc: Kaoem Telapak), swafoto Kak Rina di GENUS (Doc: Rina), dan foto Kak Rina ketika wawancara bersama Tim Koms Kaoem Telapak di Rumah AMAN (Doc: Kaoem Telapak).

Hebatnya, di tengah tuntutan ekonomi tersebut, integritas gerakan tetap menjadi harga mati. Kak Rina secara tegas menolak masuknya dana sponsor dari perusahaan rokok maupun tawaran Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan ekstraktif yang berpotensi membonceng untuk melakukan praktik greenwashing.

“Perusahaan-perusahaan itu kan punya CSR, punya dana yang bisa digelontorkan. Tapi diklaim di portofolionya (perusahaan) bahwa mereka sudah membantu, green wash gitu lho!” jelas Kak Rina memaparkan alasannya menolak dana tersebut.

Ia mengakui bahwa fasilitas yang ditawarkan seringkali sangat menggiurkan bagi operasional kafe. “Padahal peluang itu! dapat 60 juta cuma nempel logo, nggak usah ngapa-ngapain. Cuma karena secara organisasi kita punya pakem-pakem, ya nggak boleh itu!” pungkas dia tegas, menunjukkan bahwa integritas GENUS tidak bisa dibeli.

Menghadapi Tantangan Operasional dan Pesanan Internasional

GENUS juga sempat mendapat tantangan berskala global. Mereka pernah menerima pesanan sebanyak 100 buah tenun ikat dengan pewarna alami yang akan dijadikan kado Natal oleh Jeff Skoll Group, sebuah organisasi filantropi internasional yang berbasis di Palm Beach, Florida, Amerika Serikat.

Bagi GENUS, pesanan ini menghadirkan dinamika tersendiri. Kak Rina harus secara edukatif memberikan pengertian kepada pembeli mengenai karakteristik karya handmade Masyarakat Adat. Ukuran tenun buatan tangan memiliki karakter otentik yang tidak bisa diseragamkan layaknya mesin pabrik, dan proses pewarnaan alamnya membutuhkan dedikasi serta waktu yang panjang.

Meski pemenuhan pesanan tersebut akhirnya harus dibagi ke dalam dua tahap pengiriman untuk menyesuaikan kapasitas produksi di kampung, ratusan lembar karya autentik tersebut sukses mendarat di Amerika Serikat. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa karya kerajinan Masyarakat Adat memiliki daya saing dan tingkat apresiasi yang tinggi di mata masyarakat global.

Belajar dan Mengedukasi dari Ruang Seduh Perkotaan

Ke depannya, Kak Rina dan tim terus berupaya merawat ruang temu ini dengan membawa Masyarakat Adat lebih dekat ke tengah kota. Hal ini diwujudkan melalui agenda rutin tahunan bertajuk “GENUS Specta”, yang sebelumnya turut melibatkan masyarakat dari Baduy Luar.

Semangat kemandirian ini juga mulai diduplikasi di daerah-daerah lain dengan penyesuaian budaya lokal. Salah satunya adalah pembangunan GENUS Kapuas Hulu bersama Masyarakat Adat Iban, yang pelaksanaannya tetap berpegang teguh pada pakem penggunaan bahan baku lokal dari masyarakat setempat.

Melalui pendekatan yang bersahaja ini, GENUS Coffee & Boutique telah berhasil menjadi wadah komunikasi lintas budaya. Di akhir obrolan, Kak Rina menyisipkan harapan yang mendalam mengenai ruang temu tersebut.

“Harapannya, orang ke GENUS (untuk ngopi) dan (nantinya akan) melihat gerakan Masyarakat Adat (lewat kerajinan tangan), dan kalau mereka sensitif, maka empati mereka langsung terbangun—dan menanyakan (kerajinan) ini dari mana, bagaimana proses pembuatannya dan seterusnya, sembari kita mengenalkan gerakan Masyarakat Adat secara tidak langsung,” ucapnya tulus.

Di GENUS, secangkir kopi dan selembar tenun pada akhirnya adalah medium edukasi yang hangat dan bisa merangkul siapa saja untuk lebih menghargai realitas kehidupan dan gerakan Masyarakat Adat.

Foto Kak Rina ketika wawancara bersama Tim Koms Kaoem Telapak di Rumah AMAN

"Tujuan kami sejak awal adalah mengenalkan gerakan Masyarakat Adat ke masyarakat urban melalui cerita dari produk-produk mereka."
— Rina Agustine

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Cookie Dasar

Cookie yang diperlukan mengaktifkan fungsionalitas inti. Situs web tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa cookie ini, dan hanya dapat dinonaktifkan dengan mengubah preferensi browser Anda

Cookie analitik membantu kami meningkatkan situs web kami dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi tentang penggunaannya

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.