Tahun 2019, Produk pertama yang dibawa Agus adalah Madu dan Kopi Pinang di kegiatan Festival Kalianda, Lampung Selatan. Sebuah acara tur sepeda yang berhasil menarik ratusan penggemar sepeda untuk menjadi peserta. Dari sanalah pintu promosi Agus mulai terbuka. “Dari situlah meluas, barang harus stok terus,” katanya.
Ada tiga produk yang terus dikembangkan oleh Agus. Produk itu adalah kopi pinang, gula semut, dan gula aren. Untuk kopi pinang sudah memiliki penggemarnya sendiri. Bahkan, kopi pinang telah menjadi simbol kebanggaan Kampung Pekandangan, tempat Agus tinggal di Lampung Tengah.
Agus mengaku mengembangkan Kopi Pinang tidak mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi agus. Salah satunya adalah perihal perizinan. Untuk urus izin Produksi Industri Rumah Tangga (PIRT), Agus harus menyiapkan diri selama dua tahun, itu pun gagal. Namun dia tidak patah arang. Agus mencoba kembali dan di 2022 ini dia pun mendapatkannya. “Prosesnya panjang banget,” ujarnya.
Selama belum mendapatkan izin, Agus bekerja sama dengan perusahaan. Agus menjual kopi pinangnya ke pabrik tanpa merek. Perusahaan kerap membeli kopi dari Agus setelah mengetahui dari hasil laboratorium bahwa kopi dari Kampung Pekandangan yang paling bagus. Namum dampak jangka panjangnya adalah merek kopi pinang milik Agus jadi tidak dikenal oleh khalayak luas.
Penjenamaan atau branding produknya menjadi tidak kuat. Meskipun, perusahaan itu mengakui bahwa produk itu berasal dari kelompok petani asal Kampung Pekandangan.
Sekarang, Agus berharap bisa memperluas jaring pemasaran kopi pinangnya melalui minimarket. Namun ada tantangan lagi yang harus dia hadapi, yaitu, persoalan kemasan. Untuk masuk ke jejaring pasar minimarket, selain sejarah dan ketelusuran produk itu jelas, kemasan produk pun menjadi perhatian. “Standar kemasan itu alumunium foil, produk kami sudah pakai itu, namun logo produk harus dicetak bukan ditempel,” katanya.