Agar masyarakat bisa mengakses sanitasi layak, Febri mengadvokasi tiga hal yaitu; kebijakan, kelembagaan, dan anggaran. Advokasi kebijakan berkaitan dengan akselerasi akses menggunakan peraturan yang ada atau memperjuangkan aturan yang mesti ada. Advokasi kelembagaan berkaitan dengan upaya membentuk tim yang memiliki kemampuan untuk melakukan percepatan akses. Sementara itu, advokasi anggaran mencakup upaya pengalokasian dana yang salah satunya adalah dana infrastruktur atau subsidi sebagai suatu stimulasi.
“Contoh suksesnya adalah pengalokasian dana desa untuk meningkatkan sanitasi layak di desa,” kata Febri.
Cerita sukses tersebut tidak tanpa tantangan. Febri menuturkan ada banyak tantangan yang dia hadapi dalam mengadvokasi sanitasi layak. Proses yang panjang dan perlu untuk terus diingatkan menjadi tantangan tersendiri. Daya dukung pun tidak seimbang. “Kita harus terus meyakinkan sanitasi yang buruk harus diubah,” ungkap Febri.
Bertahun-tahun mengkampanyekan hak akses sanitasi layak, hasil yang diharapkan mulai terlihat. Tahun 2017, Kabupaten Way Kanan di Lampung Febri pantik untuk menuju sanitasi layak. Lalu, tahun berikutnya, 2018, Febri bergerak ke Kabupaten Pringsewu. Hasilnya, saat ini sudah dinyatakan Open Defecation Free (ODF), artinya masyarakat sudah tidak buang air sembarangan dan infrastruktur sanitasi sudah cukup baik. Tahun-tahun berikut, Febri kembali memantik kabupaten lainnya di Propinsi Lampung, yakni di Kota Metro dan Kabupaten Lampung Tengah. Dua daerah tersebut pun kini berstatus ODF. “Sekarang sudah ada tujuh kabupaten yang statusnya ODF,” kata Febri.
Data BPS tahun 2022 menyebut 83,65% rumah tangga di Provinsi Lampung memiliki akses sanitasi layak.
Perubahan yang signifikan di Propinsi Lampung tersebut tidak membuat Febri berhenti mengkampanyekan akses santitasi layak. Dia mengaku tetap melakukan pengarusutamaan isu melalui berjejaring dengan media. “Sampai sekarang pun masih, tidak berhenti (kampanye – red), menggunakan peran media kami berjejaring dan rutin membuat pemberitaan per tiga bulan sekali,” ujar Febri.