Kreativitas dan ketekunan berwirausaha dapat menjadi jembatan yang kuat untuk menyuarakan sebuah gerakan sosial kepada khalayak luas. Nilai inilah yang dipegang teguh oleh Rina Agustine, atau yang akrab disapa Kak Rina, anggota Kaoem Telapak yang berasal dari Kota Bogor, Jawa Barat.
Insting wirausaha sosial Kak Rina telah ditempa sejak lama. Pada periode 2007 hingga 2009, ia dimandatkan untuk menjalankan unit usaha PT Poros Nusantara Utama (PNU). Di sana, ia memfasilitasi usaha masyarakat akar rumput, mulai dari produksi selai nanas warga Kampung Tapos, pengolahan daun kumis kucing sebagai bahan baku herbal dari Kampung Ciwaluh, hingga turut mendukung pengembangan Kedai Telapak pada masa itu.
Pengalaman panjang membina ekonomi kerakyatan tersebut mematangkan langkah Kak Rina ketika ia mulai bergabung dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) pada tahun 2015. Setahun kemudian, pada 2016, ia mendapat mandat mengelola badan usaha milik AMAN bernama Gerai Nusantara (GENUS). Memasuki akhir tahun 2023, GENUS memperbaharui brand-nya menjadi GENUS Coffee & Boutique bergaya kekinian, menjadikannya sebuah etalase yang hangat dan estetik bagi produk-produk karya Masyarakat Adat.
Awal Pengembangan Gerai Nusantara (GENUS)
Kehadiran GENUS pada mulanya berawal dari sebuah proyek di tahun 2016. Melihat potensi besar dari inisiatif tersebut, Kak Rina dan timnya dimandatkan untuk memastikan keberlanjutannya secara mandiri meskipun masa pendanaan proyek telah usai. Dan kemudian difokuskan pada tiga unit usaha utama: Kafe, Craft (kerajinan), dan Roastery.
Kak Rina memiliki visi yang sangat jelas untuk GENUS, yakni menghadirkan karya-karya Masyarakat Adat ke tengah dinamika gaya hidup masyarakat urban yang bergerak cepat.
“Target di awal adalah untuk mengenalkan produk-produk Masyarakat Adat ke masyarakat urban. Jadi dari Masyarakat Adat dari kampung ke urban,” kenang Kak Rina mengenai tujuan berdirinya kedai tersebut.
Konsep boutique coffee kekinian pun dipilih secara strategis. Kafe ini dirancang bukan sekadar sebagai tempat singgah, melainkan ruang belajar yang ramah. Kehangatan kopi, dipadukan dengan kecantikan kerajinan tangan, menjadi media cerita yang elegan tentang keberagaman budaya dan filosofi Masyarakat Adat, tanpa harus terasa seperti sebuah kampanye formal.
Usaha GENUS Menghidupi Kemandirian Masyarakat Adat
Sebagai badan usaha milik AMAN, GENUS memiliki nyawa yang berasal langsung dari komunitas Masyarakat Adat itu sendiri. Seluruh bahan baku di GENUS wajib didapatkan dari Kelompok Usaha Masyarakat Adat (KUMA) dan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA). Mulai dari biji kopi, tenun, hingga produk anyaman, semuanya dipasok oleh anggota AMAN dari berbagai wilayah di Nusantara.
Perjalanan GENUS tentu tidak luput dari badai. Ketika pandemi COVID-19 melanda dan aturan jarak sosial diterapkan, konsep awal dari kafe GENUS di kawasan Ruko Sudirman Bogor terpaksa ditutup. Namun, Kak Rina dan timnya beradaptasi dengan keluwesan yang luar biasa. Berbekal modal dari organisasi AMAN dan pinjaman dari kelembagaan finansial, Credit Union (CU) RANDU, mereka memindahkan GENUS ke area terbuka (outdoor) yang rindang di kawasan Bubulak pada akhir tahun 2022.
Demi bertahan di tengah ketatnya persaingan iklim bisnis kafe di Bogor, GENUS lincah merespons tren kaum urban. Mereka mulai menyediakan ruang rapat (meeting room), melayani intimate wedding, hingga memfasilitasi gelaran silent concert.
“Kalau orang lain mungkin lihat (sebagai) achievement, tapi kalau kami melihatnya (sebagai) strategi. Karena (fokusnya adalah) gimana bertahan untuk operasional (tetap berjalan) dari gempuran pesaing-pesaing yang menjamur,” tegas Kak Rina.