Adhie bercerita beberapa waktu lalu pos jaga mereka dibakar massa karena marah, empat orang kerabat mereka menjadi korban ganasnya harimau Sumatera, dan polisi hutan tidak segera menangkap harimau tersebut. “Konflik antara manusia dan satwa liar memang berat. Ini adalah tantangan dalam melakukan penyuluhan kehutanan. Memediasikan persoalan ini pada warga tidak mudah. Untungnya, provokator pembakaran pos polisi hutan bisa diamankan,” ujar Adhie.
Sebagai penyuluh kehutanan, target Adhie adalah bagaimana warga sekitar tidak melakukan perambahan hutan ataupun melakukan pembalakan liar. Setiap minggu, Adhie bisa dua kali turun ke desa-desa untuk melakukan penyuluhan. Bila ditemukan warga yang masih merambah wilayah Taman Nasional, Adhie memilih pendekatan persuasive dan humanis. Hasilnya, selama sepuluh tahun terakhir Adhie melakukan penyuluhan relatif lebih aman, tidak ada konflik terbuka disertai kekerasan antara warga dengan pihak Taman Nasional.
Adhie percaya melalu edukasi dan pendekatan yang tepat, masyarakat akan mampu hidup berdampingan dengan alam tanpa merusaknya. “Yang penting adalah menanamkan kesadaran da memberikan alternatif yang bisa meningkatkan taraf hidup mereka,” Adhie mennjelaskan.
Inisiatif yang Adhie lakukan untuk memberikan alternatif adalah dengan kegiatan produksi kopi dan madu. Adhie beserta rekan-rekannya memberikan pelatihan teknis, peningkatan keterampilan, sampai dengan mendorong konservasi lingkungannya. “Tujuannya, untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada hasil hutan langsung, sambil tetap menjaga kelestarian alamnya,” kata Adhie.
Bergabung dengan Kaoem Telapak memperkaya pengalaman Adhie dalam bekerja sama dengan berbagai pihak. Adhie berharap ke depan, bisa lebih bersinergi dengan Kaoem Telapak, untuk soal pemberdayaan masyarakat, “Semoga ke depat bisa lebih bersinergi, tetap jaga silaturahmi, dan sehat semuanya,” ujar Adhie.