Agustus 28, 2026 3:35 AM | kaoem@kaoemtelapak.org

Berjuang untuk keadilan ekologi

kaoem@kaoemtelapak.org

Agustus 28, 2026 3:35 AM

Mempertahankan Wisata Bahari Berkelanjutan Desa Les

17 November 2024, Desa Les, Buleleng, Bali, mendapatkan Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 (ADWI) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Gede Yudarta, anggota Kaoem Telapak, punya cerita bagaimana merintis usaha pariwisata berkelanjutan di Desa Les ini.

Gede Yudarta menceritakan, di dekade akhir 90-an, sebelum usaha pariwisata populer di Desa Les, kebanyakan warga desa mencari nafkah dengan menangkap ikan hias. Metode penangkapan ikan yang biasa digunakan oleh masyarakat adalah dengan menggunakan racun potassium sianida. Praktik ini tentu saja punya dampak yang merusak. “Satu, pelaku menjadi keracunan, kedua ikan yang ditangkap menjadi sakit, ketiga terumbu karang rusak, di Desa Les hampir 75% terumbu karang rusak,” ungkap Gede.

Di 2000-an, Gede bercerita, Kaoem Telapak yang saat itu masih bernama Telapak datang ke Desa Les, mencoba mendampingi masyarakat sekitar. Bersama dengan lembaga lokal, Bahtera Nusantara, mereka memberikan pelatihan bagaimana menangkap ikan yang ramah lingkungan. “Metodenya menggunakan jaring-jaring penghalang,” kata Gede.

Tidak hanya itu, mereka pun berkolaborasi membuat film dokumenter berjudul Fish Don’t Cry. Menurut Gede, film dokumenter tersebut masih sangat relevan sampai hari ini. “Sampai sekarang jika ada anak sekolah atau tamu lainnya yang berkunjung, film itu pasti diputar,” kata Gede.

Setelah pelatihan, Masyarakat pun mendapat dukungan untuk melakukan usaha ekspor ikan hias di 2003. Dalam proses pendampingan usaha tersebut muncul wacana mengembangkan wisata yang berkelanjutan di Desa Les.

Wacana berubah menjadi aksi nyata ketika usaha ikan hias yang dikelola sudah tidak bisa dilanjutkan, sebab angka mortalitas ikan yang sangat tinggi. “Akhirnya, kami pun mencari-cari cara untuk membangun wisata bahari,” ungkap Gede.

Gede Yudarta, Anggota Kaoem Telapak dari Bali

Melihat situasi terumbu karang yang memprihantinkan, wisata bahari lestari yang dibangun oleh Gede dan Kaoem Telapak fokus untuk memulihkan kondisi terumbu karang. Adopt the Coral adalah program pertama dan unggulan yang mereka tawarkan kepada para wisatawan. “Jika orang sayang laut pasti suka menanam terumbu karang,” ujar Gede.

Setelah lebih dari sepuluh tahun, program Adopt the Coral masih ada. Anak-anak sekolah yang datang ke Desa Les pasti menyelipkan agenda penanaman koral di acara mereka. Bagi ekosistem laut, hasilnya pun luar biasa. Terumbu karang mulai pulih kembali. “Sekarang cari terumbu karang yang mati susah, situasinya terbalik,” kata Gede.

Kini, selain menanam koral, Desa Les punya banyak tujuan wisata dan kegiatan yang ditawarkan. “Ada wisata air terjun, pendidikan bahasa inggris, pengelolaan sampah terpadu, dan pembuatan garam tradisional,” Gede mengungkapkan.

Perjalanan Desa Les mendapatkan ADWI ternyata cukup panjang. Dari ribuan desa yang jadi destinasi wisata akan dipilih 50 destinasi. Kemudian, Tim Kementerian Pariwisata akan mendatangi 50 desa destinasi wisata ini untuk melakukan pengecekan. Menurut Gede, yang membuat Desa Les menonjol dari desa lainnya adalah sebab Desa ini menerapkan konsep wisata yang berkelanjutan. “Karena kami merintis dari awal, kami yakin bahwa wisata kami sudah sustainable, itu yang tidak banyak dimiliki tempat wisata lain,” katanya.

Di masa datang, Gede berharap bisa mempertahankan praktik wisata yang berkelanjutan di desanya, Desa Les. “Wisata itu seringkali merusak, terumbu karangnya bagus dateng-dateng, tiba-tiba jadi rusak karena diinjek, [karena] terlalu banyak wisatawan. Desa yang sederhana berubah jadi obyek wisata yang serba investor. Saya yakin bisa mempertahankan karena mandat dari Kaoem Telapak untuk menjaga ini,” ungkap Gede menutup perbincangan.

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Cookie Dasar

Cookie yang diperlukan mengaktifkan fungsionalitas inti. Situs web tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa cookie ini, dan hanya dapat dinonaktifkan dengan mengubah preferensi browser Anda

Cookie analitik membantu kami meningkatkan situs web kami dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi tentang penggunaannya

Selain tampilan Dekstop, situs ini telah dioptimasi untuk tampilan mobile dan tablet dengan batas margin (LxT) 440 x 956 px dan 1024 x 1366 px. Jika margin situs tidak sesuai, sekiranya dapat melakukan permintaan tampilan Dekstop.