Seringkali muncul dorongan dari dalam diri seseorang untuk membuat perubahan positif bagi alam secara naluri, tanpa dorongan dari profesi yang ia kerjakan ataupun orang-orang di sekitar. Itulah yang dirasakan oleh Sarie Wahyuni Ai, anggota Kaoem Telapak di Bogor, Jawa Barat.
Juga dikenal dengan nama Ai, ia telah bergerak di isu-isu seperti lingkungan dan kesejahteraan masyarakat selama lebih dari dua dekade. Nilai-nilai yang ia hayati mendorongnya untuk meningkatkan kepedulian dirinya maupun orang lain tentang produk-produk komersial yang sering dikonsumsi masyarakat, serta meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap profesi petani yang saat ini masih didominasi orang tua.
Saat ini, Ai bekerja sebagai Direktur Keuangan di TrendAsia, sebuah organisasi yang bergerak di bidang energi bersih. Ia dan rekan-rekan kerja di TrendAsia kerap mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah maupun PLN yang merusak alam, sambil menawarkan beragam solusi energi bersih bagi negara maupun masyarakat umum seperti energi matahari, air, dan angin.
Selain itu, TrendAsia juga punya kedai kopi di daerah Pejaten, Jakarta dan kebun kopi di Cimaung, Kabupaten Bandung. Ai menjelaskan, “Kami berharap usaha ini bisa menggunakan teknologi panel surya skala kecil agar lebih ramah lingkungan.”
Kemudian, Ai juga menjadi Fasilitator untuk Kait Nusantara, sebuah perkumpulan yang fokus pada UMKM untuk belajar ilmu bisnis dasar dan membuka usaha. Perkumpulan yang terbentuk tahun 2019 ini dulunya terbentuk untuk mendampingi para pengrajin rotan di Teluk Sumbang, Kalimantan Timur, kemudian berkembang dan kini bekerja sama dengan Weekend Workshop (WeWo) dan Kementerian Ketenagakerjaan.
Tidak hanya itu, Kait Nusantara juga memiliki program belajar menulis Narrative Lab untuk membantu korban-korban geothermal di daerah pegunungan untuk membantu mereka menyuarakan aspirasi. Program serupa juga pernah berjalan untuk para tahanan perempuan di Rumah Tahanan (Rutan) Perempuan Sukamiskin, Bandung dari tahun 2019-2021.
Ai menceritakan pengalamannya dengan program tersebut, “Program menulis ini sangat membantu banyak orang. Contohnya bagi para perempuan tahanan, menulis bisa menjadi dukungan untuk memulihkan mental mereka.”
“Saking berhasilnya program ini, Rutan Sukamiskin mengajak kami untuk melanjutkan program ini di tahun 2025,” lanjutnya.
Mengelola kebun sayur bersama petani muda
Ai memiliki kebun kopi pribadi di daerah Sarongge, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Masih di daerah yang sama, ia juga mengelola kebun sayur bersama sejumlah petani muda setelah memberikan dorongan dan pengetahuan kepada mereka selama empat tahun agar meningkatkan kepedulian mereka terhadap profesi petani.
Secara sukarela, Ai menggunakan kemampuannya untuk mengajarkan para pemuda di daerah Sarongge tentang bisnis dasar dan cara mengembangkan usaha bertani. Hal ini membantu mereka ketika terjadi pandemi COVID-19.
“Saat pandemi COVID-19, para petani muda ini tidak boleh masuk ke Bogor, jadi saya bantu beri mereka solusi bisnis lain untuk menjual hasil panen ke daerah-daerah lain yang punya potensi terselubung. Mereka berhasil mengarungi pandemi setelah menjual sayur-sayuran mereka ke daerah-daerah seperti Cianjur,” ucapnya.
Berkat pengalaman dan pengetahuan ini, para petani muda tersebut kini memiliki rumah dan lahan pribadi. Ai juga kini melakukan bisnis dengan mereka seperti halnya konsumen dengan penjual.
Berkaca tentang pengalaman ini, Ai berkata, “Saya mengajarkan mereka tentang bisnis, dan mereka mengajarkan saya caranya bertani.”