Putro Santos Kurniawan, Dedikasi Mantan Aktivis untuk Pertanian Organik Demi Hidup Sehat.

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Setiap pagi, Putro Santos Kurniawan atau Putro (43), sapaannya, telah bersiap diatas kendaraan roda duanya. Tujuannya adalah lahan pertanian yang berjarak 30 menit dari kediamannya di desa Ciareteun Ilir Kecamatan Cibungbulan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 

Aktivitas ini telah digelutinya sejak 15 tahun terakhir. Putro adalah seorang petani. Dengan lahan seluas 1.3 Ha plus 4 orang karyawan, dia terbilang cukup sukses. 

Lahan garapan ditanami dengan berbagai sayuran seperti bayam, kangkung, caisin, okra dan beberapa jenis sayuran lainnya. Setengah dari lahan tersebut merupakan lahan tanaman organik. Hasil panen dinikmati sendiri dan sebagian besar di jual, ada yang ke supermarket melalui supplier, ada juga ke pasar konvensional melalui tengkulak.

Meski bapak 2 orang anak ini seorang lulusan IPB dari Jurusan Ilmu dan Teknologi Kelautan Fakultas Perikanan, Putro sangat menikmati harinya sebagai petani. Baginya, menyemangati para petani akan lebih baik jika menjadi seorang petani. 

Sebelumnya, tidaklah terpikir bagi seorang Putro untuk bertani dan menjadi petani. Sejak muda dan masih duduk dibangku kuliah, mantan  aktivis lingkungan dan pesisir ini menghabiskan banyak waktunya bekerja di area non pemerintahan. 

Berbilang tahun dia habiskan waktunya di laut dan pesisir, seperti di jaringan pesisir laut Indonesia (Jaring PELA), program pesisir laut WWF dan program Coral 2000  untuk monitoring terumbu karang di pesisir Bali, sampai membentuk LSM sendiri bernama Palung yang waktu itu bekerjasama dengan Yayasan KEHATI di pulau seribu. 

“Masih darah muda, kuat dan berani. Dulu!” Kata Putro tertawa.

Pada satu titik 

Jenuh. Mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang tersirat di benaknya. Tidak konsistennya pekerjaan di LSM karena menunggu project tiba, selain itu  juga gerahnya rasa memainkan peran “pemanas” untuk mengajak orang lain peduli membuatnya mulai melirik sektor riil.

Keinginan ini terjawab dari diskusi kecil bersama pegiat lingkungan beberapa masa yang lalu. Kala itu, Putro yang masih aktif sebagai seorang aktivis lingkungan pesisir dan bertualang ke berbagai daerah di Indonesia memutuskan keluar dari LSM dan menjadi petani.

Awal Bertani.

Dimulai dengan menyawa lahan pertanian seluas 2000 m2 di di Tapos pada tahun 2004, Putro bersama seorang teman aktivis bernama Titis memulai hidup sebagai petani. TIdak lama kemudian, mereka mulai aktif berdiskusi dengan Serikat Petani Indonesia (SPI) dan mengikuti Pendidikan untuk Pertanian Berkelanjutan berbasis keluarga petani yang diadakan SPI di tahun yang sama. Setelah itu, Putro dan temannya menyewa lahan pertanian di dekat kampus IPB, dan kemudian merintis pusdiklat SPI. Pada tahun 2006 Putro mulai mencicil untuk membeli lahan pertanian sendiri sampai saat ini sudah mencapai 1 hektar. Dengan menyewa 0.3 hektar dari petani lain, total lahan yang dikelola saat ini adalah 1.3 Ha. Saat ini dapat dikatakan Putro sudah menjadi petani yang cukup berhasil. Dari luas lahan garapan tersebut, 50% nya sudah mendapat sertifikat organik, hasil kerjasama dengan ADS (Agribusiness Development Station) IPB, sebuah unit bisnis di bawah Unit Science dan Technopark IPB.  

Saat ini, dari luas lahan garapan itu, 50% merupakan lahan tanaman bersertifikat organik hasil kerjasama dengan IPB ADS (Agribussiness Development Station). 

“Kami memasok panen organik ini ke IPB ADS. ADS inilah yang akan menyuplai ke supermarket-supermarket,” terang Putro.Selain ke ADS, dia juga menyuplai langsung ke beberapa supermarket dan toko-toko yang berdekatan dengan wilayahnya.

Meski harus melalui berbagai prosedur, produk yang ditawarkan ke pasar juga membuahkan harga yang cukup tinggi. 

Kendala dan Transfer Pengetahuan 

Animo masyarakat akan pangan yang sehat dan bebas bahan kimia saat ini mengalami peningkatan. Bagi petani, harga yang dihasilkan dari tanaman organik juga menjawab kebutuhan akan kesejahteraan mereka, namun lahan yang bersertifikasi masihlah kurang luas untuk menjawab tantangan tersebut.

Putro dan 15 petani didesanya membangun kelompok produksi. Sebulan sekali diadakan pertemuan dengan berbagai agenda. Misalnya, membagi petani untuk menanam jenis tertentu, kualitas dan pengolahan yang baik, pembuatan pupuk organik, mendiskusikan kuota panen, hingga ketersediaan pasar yang baru. 

“Dalam sehari, satu petani bisa menghasilkan 30 kg jenis sayuran organik. Terkadang, ada jenis sayuran yang tidak tersedia karena minimnya lahan atau gagal panen. Waktu lain, semua jenis tanaman membludak hingga harus di berlakukan antrian hasil panen ke supplier, makanya diatur,” kata Putro.

Dari suplier, produk mereka kemudian akan dipasok ke supermarket yang bekerjasama dengan penyuplai. Meski menuai penghasilan memadai, Putro merasa ada yang kurang.  Keinginannya agar petani bisa bersentuhan langsung dengan konsumen belum terjadi.

“Pinginnya bisa langsung dengan konsumen, ada diskusi, pencerahan dan transfer pengetahuan tentang sayuran organik. Dengan demikian, akan ada rasa saling menghormati antara petani dan konsumen. Petani mendapat penghargaan atas upayanya, dan konsumen mendapat pengetahuan tentang sumber pangan yang sehat,“ Putro menambahkan.

Sebelumnya, dia pernah melakukan percobaan agar keinginan itu bisa terwujud. Metode yang dipakai pun beragam. Mulai dari door to door hingga mengikat kerjasama dengan organisasi PKK setempat. Sayangnya percobaan ini tidaklah efisien bagi petani. Menurutnya lagi, supermarket masih bukan tempat yang ideal bagi pemasaran produk-produk organik, karena komunikasi antara produsen dan konsumen tetap tidak terjadi. 

“Jika produk petani punya wadah khusus, ada sharing pengetahuan, ada interaksi, patokan harga yang bisa menaikkan nilai tukar petani tetapi tidak membelit konsumen, itu malah jauh lebih baik.”

Saat ini, menurut Putro kehadiran pihak ketiga yang mampu mengorganisir dan menjadi sarana berbagi pengetahuan sangatlah dibutuhkan, agar petani bisa lebih berkonsentrasi untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan konsumen pun memiliki pengetahuan konsumsi pangan yang lebih baik. Hubungan langsung antara petani dan konsumen juga berpeluang untuk meningkatkan kesejahteraan petani karena tidak lagi tergantung kepada tengkulak. Jika ada pihak ketiga semacam ini, Putro berkata akan bisa fokus pada penyiapan diversifikasi hasil pertaniannya. “Ada kapal dagang, ada kapal perang” kata Putro.

Bagian dari Gerakan Kaoem Telapak

Presiden Perkumpulan Kaoem Telapak Zainuri Hasyim bangga dengan pencapaian Putro. Sebagai salah satu anggota perkumpulan, jelas Zainuri, Putro telah melakukan hal yang selaras dengan tujuan organisasi.“Karena organisasi ini berdiri untuk mewujudkan kedaulatan, kemandirian, dan martabat kaum petani, nelayan dan masyarakat adat Indonesia.” imbuh Zainuri. 

NEXUS OF WORK:

CAMPAIGN:

ABOUT US

Perkumpulan Kaoem Telapak

About Maklumat Sarongge

Privacy Policy

Terms of Use

OUR SITE

Agenda

Forest Campaign

Palm Oil Campaign

Publication

Podcast

JOIN US

Subcribe

Career

Donation