Anggota Kaoem Cipto Aji Gunawan: Laut Rusak, Hilang Mata Pencaharian

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Keunggulan Indonesia terhadap potensi laut dan pesisir tidak perlu diragukan. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Potensi ini dapat dikembangkan sebagai  destinasi wisata  bahari  yang  unggul  dan  berdaya  saing  tinggi.  

Cipto Aji Gunawan atau akrab dipanggil Cipto merupakan Anggota Kaoem Telapak yang telah lama bekerja di sektor pariwisata bahari. Saat ini Ia menjabat sebagai Staff Ahli Gubernur Bali Bidang Pariwisata. Sebagai Staff Ahli Cipto banyak memberi masukan terhadap pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).

Cipto Aji Gunawan, Anggota Kaoem Telapak

Kecintaan Cipto tehadap laut sudah tumbuh secara natural. Pria lulusan Doctor American Trinity University ini menggambarkan laut sebagai aset yang sangat berharga.

Pada tahun 1996, Cipto berprofesi sebagai instruktur selam/diving untuk anggota Telapak, dan sekitar awal tahun 2000-an Cipto membuka dive center di Bali. Cipto sendiri tergabung menjadi anggota Telapak bermula dari ajakan anggota lain Ambrosius Ruwindrijarto atau akrab dipanggil Ruwi. Berawal dari pertemuan tersebut, mereka saling bertukar pandangan terkait permasalahan laut Indonesia.

Banyak permasalahan laut Indonesia yang mendesak untuk dibenahi. Ancaman kerusakan laut diantaranya diakibatkan oleh praktik-praktik perikanan yang tidak ramah lingkungan (destructive fishing).

Destructive fishing merupakan kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap atau alat bantu penangkapan ikan yang merusak sumber daya kelautan dan perikanan, seperti penangkapan ikan dengan menggunakan racun potas serta pengunaan bom[1].

Adapun dampak dari dari destructive fishing diantaranya: 1) merusak terumbu karang dan habitat ikan; 2) kematian ikan berbagai jenis dan ukuran; serta 3) mengancam keselamatan jiwa.

Penangkapan Ikan dengan Menggunakan Racun Potas

Berbisnis Mengandalkan Alam yang Terjaga

Bagi Cipto berbisnis dengan mengandalkan alam yang terjaga telah menjadi pedomannya dalam menjalankan usaha bisnis. “Saya sudah lama berkecimpung pada isu laut dan menyaksikan kondisinya dari awal, sehingga kami tahu laut adalah aset pekerjaan kami. Saya punya keyakinan jika kita bisnis dengan mengandalkan alam yang terjaga maka bisnis dapat terus berjalan”, ujar Cipto.

Cipto dulu sering melakukan akitvitas diving di Kepulauan Seribu dengan mengajak wisatawan. Namun dalam pengalamannya ia sering menemukan praktik destructive fishing.  

“Setiap saya membawa orang untuk diving sering terdengar suara dentuman di bawah perairan. Kita tahu bahwa itu suara bom. Suara-suara ini sangat meresahkan para wisatawan yang sedang diving,” ujar pria asli Jawa Tengah ini.

Apabila kegiatan penangkapan ikan terus terjadi maka secara langsung berimbas pada habisnya sumber daya perikanan dan secara lambat laun berdampak terhadap hilangnya sumber mata pencaharian nelayan.

Menurut Cipto, alam dan manusia memiliki ikatan yang sangat penting. “Pentingnya berbisnis dengan memastikan alam yang terjaga. Kalau alamnya rusak saya tidak bisa berbisnis. Saya tidak bisa bawa orang bila alamnya rusak, tutup periuk nasi kalau alamnya rusak”, ucap Cipto.

Oleh karenanya, diperlukan pengelolaan dan pengembangan pariwisata bahari yang berkelanjutan. Pengembangan wisata bahari yang berkelanjutan selain dapat meningkatkan perekonomian kawasan juga ikut memberikan implikasi positif bagi kelestarian lingkungan laut dan pesisir.

Tahun 2012, Cipto membangun Sea Communities. Sea Communities adalah usaha sosial bagi penduduk desa Les untuk membangun kembali terumbu Les dan meningkatkan mata pencaharian penduduk desa melalui program kelautan, pengajaran bahasa Inggris dan penjangkauan masyarakat. 

Sea Communities lahir ketika Cipto membawa organisasi kelautan nirlaba Australia, DiVo (Dive Voluntourism) ke desa Les. Mereka bekerja sama dengan Gede Yudarta, seorang pemuka adat desa Les, dan koperasi nelayan desa Les untuk membawa konsep kesukarelaan dalam upaya rehabilitasi terumbu karang yang dimulai oleh nelayan[2]. Adapun keberhasilan konsep Les telah dipelajari oleh berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)/NGO[3].

Menurut Cipto motivasi orang berwisata terdiri dari empat tahapan:

  1. motivasi saya datang, saya disana dan senang-senang di satu lokasi (kebanyakan wisatawan);
  2. motivasi saya datang ke suatu tempat karena ingin belajar. Biasanya akan spending lebih besar dan mau nyewa guide lokal;
  3. motivasi orang-orang yang berwisata dan berpartisipasi;
  4. motivasi orang-orang yang tidak hanya berpartisipasi tetapi juga ikut berkontribusi (voluntourism).

Volunteer tourism/Voluntourism atau pariwisata relawan merupakan konsep wisata melibatkan para wisatawan yang dengan sukarela membiayai dan melakukan kegiatan sosial ataupun konservasi di berbagai belahan dunia[4].  

Tujuannya untuk menyediakan perjalanan wisata alternatif yang berkelanjutan dan dapat membantu dalam pembangunan masyarakat, penelitian ilmiah atau restorasi ekologi. Para wisatawan memanfaatkan liburan mereka dengan kegiatan relawan dalam berbagai projek yang diminatinya.  Selain itu, ada pula yang membiayai sendiri perjalanan dan bahkan dalam beberapa kasus memberi kontribusi finansial terhadap proyek yang dikerjakan[5].

“Saya ajak teman saya yang berasal dari Amerika untuk datang ke Les, kemudian kita sama-sama memikirkan pariwisata yang lebih konkret, lebih serius. Kebetulan teman yang dari Australia memiliki travel agent yang mengembangkan produk voluntourism”, kata Cipto. Selain organisasi-organisasi luar, pengembangan wisata bahari di desa Les tidak terlepas dari ide-ide dan dukungan luas termasuk masukan dari Ruwi Telapak.

Saat ini, Desa Les telah bermitra dengan beberapa institusi pendidikan luar negeri di bidang penelitian scientific kelautan, seperti National University of Singapore (Singapura), dan Carroll University (Amerika Serikat).

Keberhasilan Desa Les sebagai destinasi wisata bahari tidak terlepas dari peran masyarakat lokal atau nelayan Les yang berkomitmen untuk menjadikan daerahnya tetap lestari. Lewat alam yang terjaga banyak wisatawan yang datang berkunjung.

Disamping itu, pengembangan wisata Les tetap berdasarkan ciri khas masyarakat lokal atau nelayan sekitar. Menurut Cipto, nelayan tetaplah jadi nelayan dan pariwisata itu sebagai value editnya.

“Jika Nelayan tidak ada maka pariwisata juga tidak berjalan. Aset saya adalah alam dan manusianya. Saya tidak bisa bawa orang bila alamnya rusak,” pungkas Cipto.

Penulis: S R Megumi

Sumber referensi:


[1] https://kkp.go.id/djpsdkp/infografis-detail/902-apa-itu-destructive-fishing

[2] https://seacommunities.com/sea-communities

[3] Ibid

[4] I Gusti Ngurah Agung Suprastayasa. 2011. Pariwisata Relawan (Voluntourism): Perkembangan, Aktivitas dan Masyarakat Lokal. Jurnal Kepariwisataan. 

[5] ibid

ABOUT US

Perkumpulan Kaoem Telapak

About Maklumat Sarongge

Privacy Policy

Terms of Use

OUR SITE

Agenda

Forest Campaign

Palm Oil Campaign

Publication

Podcast

JOIN US

Subcribe

Career

Donation