fbpx

Menu

Menyusuri Bukit Menoreh Menyambangi Anggota Kaoem

“Wis, kamu jadi ke Sorong? Kapan berangkat?”, tiba tiba saya mendapat pesan singkat melalui WA dari mas Ruwi. Sebagaimana sudah dijadwalkan bahwa Tanggal 3-4 desember, temen temen di Sorong mengadakan kegiatan Festival Noken. Sebulan yang lalu ketika saya berada di sana dalam rangka assessment kegiatan di Kabupaten Tambrauw, menyatakan akan berusaha menghadiri puncak acara Festival jika tidak ada halangan.
“Enaknya sih ke Sorong bareng temen-temen konsorsium untuk sosialisasi program”, saya membalas pesan mas Ruwi.

“Kalau gak jadi ke Sorong, maka ke Jogja aja. Jumat besok ini aku mau nemuin kelompok Vanilli dan mberesin PT. Vanilla Mbajing”, balas Ruwi.

Saya pun berpikir inilah saatnya berangkat ke Yogya menemui temen temen anggota Kaoem yang berada di DIY. Dan sayapun coba mengontak beberapa anggota Kaoem Telapak yang sekiranya bisa diajak untuk menemani perjalanan ke sana. Saya mengontak Kosar anggota Kaoem Telapak yang memiliki aktivitas mendampingi pemuda di Cipeutey untuk pengembangan UMKM berbasis komoditas Kopi di sana. “Sar, ke Yogya yuk.. Lihat kebun vanilla sekalian ketemuan sama temen temen anggota Kaoem di sana” begitulah saya mengontak Kosar. “kapan?” Balas Kosar. “Jumat berangkat” balas saya lagi. “Oalah, jumat aku masih ada acara lagi vertek yang kemitraan konservasi, udah 2 hari ini acaranya dan ada serangkaian acara sampai tanggal 8 Desember”, balas Kosar. Wah kosar gak bisa diajak berangkat nih… dan sayapun mengontak Putro yang biasanya sih kalo waktunya kosong diajak jalan kemana aja pasti bisa.

Mas Putro adalah anggota kaoem telapak yang berprofesi sebagai petani, saat ini sedang sibuk sibuknya mengelola lahan pertanian seluas hampir 1 hektar miliknya di Ciaruteun Kab Bogor. Lalu sayapun mengontak mas Putro. “Put, ikut yuk ke Yogya ketemuan sama mas Ruwi dan petani vanilla berangkat Jumat”. Seperti sudah diduga, Putro langsung meniyakan ajakan tersebut. “Pulang hari minggu kan ya? Aku gak bisa lama lama soalnya ngurusin kebunku”. Akhirnya sayapun punya temen yang bisa menemani ke Yogya dan kebetulan seorang petani pula yang bisa sharing nantinya.

Setelah putro bersedia, lalu saya memerlukan 1 orang lagi untuk menemani perjalanan. Gak terpikir ngajak siapa lagi, akhirnya saya teringat ada Mas Hari Kikuk yang menurut saya cocok diajak karena hobinya ngoceh ngalor ngidul gak karuan, cocok membuat supir selama mengemudi terjaga karena akan diajak ngalor ngidul. “Ri, kamu ikut saya ke Yogya, ngojek dan jaga toko di hold dulu aja, “ dan seperti biasa kalau Hari tidak dalam keadaan sakit pasti akan langsung ikut tanpa banyak Tanya lagi.

Akhirnya kami pun berangkat ke Yogya pada hari Jumat tanggal 3 Desember. Kami berangkat sepagi mungkin. Karena rumah kami searah, maka saya pun meminta hari datang ke rumah lalu berangkat sama sama menuju rumah putro. Sebelum berangkat kami memeriksa kondisi kendaraan yang akan dipakai, setelah dirasa oke kamipun berangkat menuju Yogya. Estimasi tiba di Yogya adalah malam hari karena kami berangkat pukul 10 pagi.

Benar saja kami sampai di Kota Yogyakarta sekitar pukul 21.00 WIB, lalu mencari penginapan murah meriah di sepanjang jalur malioboro untuk beristirahat.

Keesokan harinya, setelah sarapan kami berangkat ke rumah Mas Ruwi. Setelah mendapatkan sharelock , kamipun tiba di rumah mas Ruwi sekitar pukul 9.30 pagi. Tidak susah mencari alamat rumah karena mbah google memiliki kesaktian menjawab segala hal.

Setiba di rumah mas Ruwi, kami disambut oleh mas Ruwi, mbak Debbie dan juga Maringi yang sudah tumbuh menjadi remaja cantik. “Semalem kami baru dari rumah sakit, karena Maringi sakit allergi”, sahut mbak Debbie. Sudah lama sekali saya tidak bertemu dengan keluarga bahagia ini. Kami pun akhirnya ngobrol ngobrol santai ngalor ngidul.

Pembicaraan sedikit serius membahas aktivitas mbak Debbie yang sedang mengembangkan usaha olahan pasta vanilla yaitu mengolah hasil panen vanilla kering yang dibeli dari petani vanilla mbajing untuk kemudian diolah menjadi pasta. Debbie pun memperlihatkan produknya, membuka 1 botol pasta vanilla buatannya. Saya mengamati produk pasta vanilla yang formulanya adalah hasil temuan Debbie. Saya melihat isian botol pasta tersebut dan berulang ulang mencium aroma yang dihasilkan . “Aroma pasta vanilla asli memang tidak terlalu kuat sebagaimana vanilla yang ada di pasaran”, sahut Debbie ketika melihat saya sibuk mengendus ngendus botol vanilla tersebut. Lalu Debbie menjelaskan pembuatan pasta vanilla yang ternyata sudah dipasarkan dengan merk “Vanilla Mbajing”.

Suasa foto bersama dengan anggota Kaoem Telapak daerah Kulunprogo sembagi mencicipi pangan lokal

“Produk saya ini sudah terjual kurang lebih mendekati 1000 botol”, jelas Debbie. Pembelinya rata rata mengetahui adanya produk ini melalui channel youtube Debbie. Debbie ini adalah seorang youtuber yang memiliki 450 ribu subscriber. Channel youtubenya menyajikan konten seputar masak memasak dan tentu saja mengolah aneka macam kue.

“Saya terkendala ijin edar BPOM, sehingga belum berani memperbanyak produksi dan mengedarkannya” terang Debbie. Saya pun bertanya apakah sudah di urus prosesnya ke Badan POM untuk sekelumit ijin ijin tersebut. “Sedang dalam proses, kami mempercayakan pengurusan ijin tersebut ke Notaris yang membuat akta Pendirian perusahaan. Hanya saja hingga sekarang belum selesai sudah 5 bulan”. Terang Debbie kembali. Sayapun memaklumi jikalau mengurus ijin dari BPOM memang membutuhkan kesabaran. Karena masalahnya di perijinan, sayapun bertanya lebih dalam. “prosesnya berarti sudah di BPOM ya, menunggu dari mereka?” Tanya saya kembali.

“Tidak, menurut informasi dari orang notaris prosesnya belum masuk ke BPOM. Terkendala sama belum terbitnya NIB (Nomer INduk Berusaha) yang dikeluarkan melalui OSS”, terang debbie. Kami frustasi kok NIB gak keluar keluar, sementara kata orang orang mudah memperolehnya. Saya hanya mengomentari ya push aja terus minta supaya orang notarisnya bisa segera membantu. Pengalaman saya membuat NIB tidak susah. Setelah panjang lebar berkeluh kesah, akhirnya saya menyadari bahwa masalah dari Mbak Debbie baru step awal yang berpengaruh terhadap proses perijinan selanjutnya. Yaitu belum memiliki NIB. Dan saya pun akhirnya menyarankan, ya sudah untuk mengurus NIB kita coba sendiri gak perlu minta bantuan pihak lain. Dan saya pun mengambil HP lalu membuka situs OSS yang biasa diakses untuk membuat perijinan. “Yuk kita coba sekarang, siapkan data data perusahaan, semoga kita bisa buat sendiri”, saya pun mencoba mencari solusi. Setelah data-data lengkap sayapun mulai mesuk ke tahapan tahapan perijinan yang ada dalam aplikasi. Setelah semua data masuk, akhirnya NIB bisa keluar. “NIB yang dinanti nanti sekian purnama sudah selesai ya”, sayapun membagikan lembar elektronik NIB. Urusan NIB selesai, dan sudah bisa menjadi dasar dari pembuatan aneka perijinan. Bagi yang terbiasa mengurus perusahaan mungkin pengerjaan ini hal yang sepele. Namun bagi orang awam, perijinan ini tentu menjadi masalah rumit. Dan sayapun akhirnya bisa memberikan solusi atas masalah yang dihadapi mbak Debbie dalam membangun perusahaannya.

Saya, Ruwi, Putro, dan Hari akhirnya mendiskusikan model dari pelayanan organisasi Kaoem Telapak terhadap anggotanya yang memiliki permasalahan mengembangkan usahanya. Dan model yang baru saja saya lakukan adalah salah satu model layanan yang bisa dilakukan oleh organisasi untuk membantu anggotanya. “Kita kumpulkan anggota yang memiliki kompetensi tertentu untuk memecahkan masalah tertentu”, kata Putro.

Beberapa bulan ini saya memang memutar otak bagaimana menggerakan organisasi untuk bisa melayani anggota. Dari pengalaman seperti ini tentunya masalah komunikasi menjadi penting. Sehingga diperlukan interaksi yang intensif antar anggota sehingga satu sama lain bisa saling membantu, memecahkan masalah yang dihadapi oleh anggota.

Hari menjelang siang, kami pun mengakhiri perbincangan Vanilla Mbajing untuk segera berangkat ke desa Samigaluh mengunjungi anggota Kaoem Telapak lainnya. Ada 3 yang kami sambangi yaitu mbak Erna, mbak Wartini dan mas Heri.

Perjalanan menuju Samigaluh memakan waktu kurang lebih 40 menit. Perjalanan ini mengingatkan saya kembali sekitar 10 tahun yang lalu dimana saya sering ke Kulonprogo dalam rangka membangun Community Logging yang kami gagas saat itu.

Tak berselang lama, kami pun tiba di kediaman Mbak Erna. Mbak erna ini adalah anggota kaeom telapak yang berprofesi sebagai guru, petani dan pedagang. Kami disambut dengan senyuman hangat. “mbak kedatangan kami kesini yang utama adalah karena belum makan siang” terang mas Ruwi sambil tersenyum senyum. “Ini tamu kurang ajar.. datang datang minta makan ha ha ha”, kata Putro sambil tertawa dalam.

Mbak erna pun dengan sigap segera menyiapkan menu terbaik untuk kami santap siang. Dan tak lama kami pun makan siang dengan menu bebek goring, tumis buncis dan oseng tempe. “biasanya kami masak beras merah, namun kali ini beras putih hasil panen di petak sawah kami”, terang mbak erna.

Mbak Erna pun menjelaskan aktivitas sehari hari sebagai tenaga pendidik yang juga menjadi petani padi sekaligus membuka warung di rumahnya. Beras mentik susu adalah beras yang kami tanam. “Mbak Ery secara rutin membeli beras kami”, kata mbak erna yang didampingi suami tercinta Mas Yanto. “Kami rutin mengirim ke cibubur, ke Jakarta dan ke tempat lainnya. Selain beras mentik susu, kami juga menyediakan beras merah, aneka jamu empon empon. Mbak erna masuk ke dalam ruangan dan keluar membawa dua botol berisi cairan bening. “Ini adalah VCO dari kelapa gading. Beberapa waktu lalu ada pelatihan pembuatan VCO di tempat kami”, terang mbak erna. Sayapun seperti biasa setiap melihat produk sudah dengan otomatis akan meilhat penampakan dan mencium aroma dari produk itu.

“Selain VCO, kami juga membuat sabun lho mas”, kali ini mas Yanto yang memberi penjelasan. “Keluarga saya membuat sabun beras dan sudah diproduksi untuk dijual. Katanya sih sudah ekspor, papar mas Yanto. “wah keren itu mas, bolah kapan kapan kami mampir untuk melihat sabun beras tersebut”, saya tertarik karena sabun merupakan salah satu komoditas yang memiliki nilai jual cukup baik untuk kategori kosmetik. “iya ,mas nanti kita kondisikan ya, soalnya yang buat bukan kami tapi saudara” timpal mas Yanto.

“iki lho mas, beras mentik susu dan beras merah”, mbak Erna membawa tampah berisikan beras putih dan beras merah. Saya mengamati beras mentik susu yang terlihat berisi bulat namun banyak yang pecah. “ini nanti kami pilah, beras mentik susu kepala akan disortir sehingga nilainya lebih mahal dibanding beras campuran. Harganya pun selisih dua ribu rupiah untuk beras mentik susu kepala”, terang mbak erna.

Kami pun mendengarkan penjelasan mbak erna sambil bertanya Tanya perihal kendala menanam beras mentik susu ini. Disbanding beras biasa, perawatan beras mentik susu ini lebih ekstra karena memiliki karakter yang berbeda. Umur tanam lebih lama, disukai hama penyakit, batang yang tinggi sehingga mudah roboh. Inilah yang membuat beras ini kenapa lebih mahal selain rasanya yang enak.

Setelah perut kenyang dan memperoleh cerita yang cukup banyak dari salah satu anggota kaoem telapak, kami pun bergegas untuk pamit dan melanjutkan kunjungan ke tempat berikutnya yaitu kediaman mbak Wartini. Letak rumah mbak Wartini sekitar 10-15 menit dari desa Ndekso. Kami melalui pasar Boro untuk kemudian naik ke atas bukit Menoreh untuk menuju kediaman mbak Wartini. Tak lama kami tiba di rumah mbak Wartini.

Dengan senyuman yang khas dari mbak wartini, kami mendapat sambutan yang ramah khas desa di Menoreh.. Ayo masuk….
Selain mbak erna, mbak Wartini juga merupakan salah satu anggota kaoem telapak yang berprofesi sebagai tenaga pendidik. Mbak wartini ini juga berprofesi sebagai petani dan beternak sapi. Di belakang rumahnya ada 3 ekor sapi potong yang gemuk gemuk tanda kemakmuran dan kesejahtreraan hewan diperhatikan dengan baik. Diberanda rumah yang menyatu dengan alam, ada gerobak mie ayam. Iya mas, ini adik saya berjualan mie ayam disini.

Mbak wartini juga aktif sebagai pelestari budaya. Di kediaman beliau tersimpan 1 set gamelan yang biasanya dimainkan setiap sore di hari minggu untuk melatih masyarakat dalam melestarikan budaya gamelan.

Kami disuguhi the berwarna biru. Tak salah ini adalah teh bunga telang. “ini bibitnya dari mbak Itok lho mas”, tutur mbak Wartini sambil menyuguhi kami dengan teh tersebut. Diberi jeruk nipis,warnanya akan berubah dari ungu menjadi hijau. Sayapun mencobanya dan benar saja terjadi perubahan warna saat jeruk di masukkan ke dalam teh. “Rutin mengkonsumsi ini, teman saya penglihatannya menjadi normal kembali. Tidak memerlukan kacamata lagi untuk membantu penglihatan”, kata mbak Wartini yang didampingi oleh mas supri. Tiba tiba mas Supri bangkit dan langsung memanjat pohon pepaya… mengambilkan pepaya untuk kami… “terima kasih mas, kami sebenernya maunya durian, bukan pepaya” guyon mas hari kikuk. Tak lama, mbak wartini kembali menyuguhi kami dengan nasi biru. Mas, ini rencananya saya mau open order buat warga disini dengan nasi biru. Silahkan dicoba ya… dan kami pun makan nasi biru tersebut dengan topping telur dadar dan semur ati ampela. Sungguh nikmat ditengah cuaca nan sejuk di perbukitan menoreh, menyantap makanan demi makanan yang tersaji.

Setelah makan kami pun ngobrol perihal ketersediaan air, lingkungan , budaya, sosial dan kehidupan sehari hari masyarakat menoreh, hingga tak terasa waktu beranjak sore. Karena waktu terbatas, kamipun pamitan untuk melanjutkan perjalanan menyambangi satu lagi anggota kaoem yang berada di mbajing desa pagerharjo yaitu mas heri.

Setelah mengantar mbak erna kembali ke rumahnya, kami melanjutkan perjalanan ke Pagerharjo. Sebelum ke tempat mas heri , mas ruwi mengajak kami ke suatu tempat dimana ada komunitas 14 pemuda desa membangun usaha kedai kopi. Kami pun mengejar ke lokasi sebelum matahari terbenam. Dan sampailah di tempat terseebut. Sebuah bangunan semi permanen berdiri kokoh di tepi jalan dimana pemandangan nya dominan hamparan sawah.
“Kedai ini baru akan kami buka bulan januari mas”, kata mas Eri. Ini kami swadaya seluruhnya. Kayu cengkeh ambil di kebun, papan kami olah sendiri juga seluruh pembuatan dikerjakan oleh kami sendiri” lanjut mas Eri. “mudah-mudahan tempat ini menjadi pilihan bagi warga lokal yang ingin menikmati suasana pedesaan khas menoreh”.

Tak terasa hari mulai malam, dan kamipun pamit untuk kemudian bergegas menuju tempat mas Heri anggota Kaoem Telapak. Mas Hei menyewa lahan untuk dijadikan rumah belajar Kopi dan Vanila. “biaya sewa tanah ini 2 juta per tahun, masih murah kalo diini mas”, jelas mas Heri. Rumah belajar ini juga dilengkapi dengan kedai kopi, jadi setiap orang bisa mampir dan menikmati kopi khas mbajing dan aneka menu lokal yang kami sediakan. Malam itu bersama mas heri kami berdiskusi perihal budidaya vanilla, budidaya kopi dan topic topic nostalgia lainnya. “besok kita lihat tanaman vanilla ya mas, karena hari ini terlalu gelap” kata mas heri.

Karena menjelang malam dan mata sudah mulai memerlukan bantal, kami pun pamitan untuk lanjut ke tempatnya mas Ruwi dilahirkan yaitu dusun Mbajing. Tak jauh dari tempat mas Heri, mas Ruwi sedang membangun rumah produksi pengolahan vanilla yang berada tak jauh dari rumah orangtuanya. Kamipun menginap di tempat tersebut.

Keesokan harinya, kami berjumpa dengan ibunda mas Ruwi yang mengantarkan kami untuk kembali pulang. Ya pagi itu, mas Ruwi dan Debbie ada acara market day sebuah even pameran untuk memasarkan pasta vanilla mbajing yang diselenggarakan oleh sosialita dan elite lit yogya. Jadi kamipun tak berlama lama di dusun mbajing untuk kembali ke Yogya.

Sebelumnya kami mampir kembali ke tempat mas Heri, untuk melihat tanaman vanilla dan kopi di Rumah belajar kopi dan vanilla. Kami dijelaskan teknik budidaya vanilla, cara mengawinkan hingga tips tips merawat tanaman vanilla. “Desa pagerharjo sudah ditetapkan sebagai desa Vanilla oleh pemkab Kulonprogo”, jelas mas Heri. Sehingga Vanilla menjadi komoditas alternatif yang dapat mengangkat citra desa dan meningkatkan nliai ekonomi bagi para petani desa Pagerharjo.

Terima kasih Mbak Erna, Mbak Wartini, Mas Heri, Mas Ruwi, Debbie… perjalanan ke Kulon progo sungguh berkesan. Semoga kita bisa followup dengan ide ide pengembangan yang bisa kita implementasikan bersama. [end WT]
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

SITUS INI MENGGUNAKAN COOKIE

Beberapa cookie ini penting, sementara yang lain membantu kami meningkatkan pengalaman Anda dengan memberikan wawasan tentang bagaimana situs digunakan.

Untuk detail lebih lanjut atau untuk mengubah pilihan persetujuan Anda kapan saja – lihat Kebijakan Privasi dan Cookie kami

Cookie Dasar

Cookie yang diperlukan mengaktifkan fungsionalitas inti. Situs web tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa cookie ini, dan hanya dapat dinonaktifkan dengan mengubah preferensi browser Anda

Cookie analitik membantu kami meningkatkan situs web kami dengan mengumpulkan dan melaporkan informasi tentang penggunaannya